31 July 2017

Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus)


Ikan Napoleon atau dalam bahasa inggris disebut Humphead Wrasse adalah ikan laut penghuni terumbu karang terbesar di dunia. Ikan napoleon masuk ke dalam keluarga Labridae dan merupakan spesies Labridae terbesar di antara ikan Labridae lainnya. Disebut ikan napoleon karena bentuk tonjolan di kepala ikan ini menyerupai topi Napoleon, sehingga ia dinamai dengan ikan napoleon. Panjang ikan ini bisa mencapai 1.5 meter. Dan beberapa ikan bisa mencapai ukuran sampai 180 kg pada usia 50 tahun. Kehidupan hewan ini umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter. Para penyelam biasanya menemukan ikan ini berenang sendiri pada daerah sekitar karang. Ikan Napoleon merupakan salah satu spesies yang masuk daftar merah International Union for The Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), lembaga yang menetapkan potensi sumber daya sebagai batas kritis, langka, dan terancam populasinya dan juga termasuk dalam daftar appendik II Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). Faktor pemijahan yang rendah dan eksploitasi besar-besaran menjadi penyebab utama semakin menurunnya jumlah populasi ikan yang juga dijuluki King of Ocean ini. DI Indonesia, ikan napolen diketahui hidup di wilayah perairan Raja Ampat Papua, Wakatobi, Bunaken, Buton, Sikka dan perairan Maluku.

Ikan ini disebut orang Australia dengan nama Hump Head Maori Wrasse, karena bagian mukanya mempunyai guratan-guratan yang menyerupai hiasan muka orang Maori. Di Indonesia sendiri, ikan napoleon juga memiliki banyak nama lokal yang berbeda antara satu daerah dan lainnya. Masyarakat di Kepulauan Natuna dan sekitarnya menamai ikan ini ikan Mengkait atau Ketipas. Di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta dan Sulawesi ikan ini dinamai ikan Maming (seperti di Philipina). Di wilayah Bangka dan Belitung ikan ini diberi nama ikan Siomay (Seperti di China). Di Kepulauan Derawan ikan ini dikenal dengan nama lokal Bele-bele. Di Kepulauan Karimun Jawa ikan ini dinamai ikan Lemak, sedangkan di Nunukan dan Tawau ikan ini dinamai ikan Licin.




Klasifikasi Ilmmiah :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Super kelas : Pisces
Kelas : Actynopterygii
Ordo : Perciformes
Sub Ordo : Percoidea
Famili : Labridae
Genus : Cheilinus
Spesies : Cheilinus undulatus

Ciri khas ikan napoleon adalah mempunyai dua garis diagonal berwarna biru atau kehitaman di belakang matanya dan dua lagi agak miring menghadap ke arah bagian paling atas bibir. Pada ikan dewasa memiliki tonjolan dibagian dahinya yang akan semakin menonjol seiring dengan bertambahnya usia, dan memiliki bibir yang padat dan tebal dengan sepasang gigi yang keras. Ikan betina berwarna ke abu-abuan, merah atau coklat yang pudar, wajahnya mempunyai guratan-guratan unik. Guratan-guratan tersebut berwarna krem (kuning susu) yang saling tumpang tindih pada bagian atas mulut, kemudian meluas ke atas badan dan seberang ujung sirip dada.

Badannya berwarna hijau cerah dan di bagian ekornya berwarna ke biru-biruan. Sisik badan sangat besar, ditepi sisik-sisiknya terdapat garis vertikal berwarna krem kehitaman. Ikan jantan cenderung berwarna hijau terang atau ke biru-biruan dengan pola garis-garis berlekuk di bagian kepala dan bagian depan dari tubuhnya.

Sirip punggung berduri keras, jumlah 9 buah yang terdapat sepanjang punggung, pada daerah vorheat (dahi) terdapat benjolan tebal, daerah preoper dan operculum bersisik halus, sisik dada besar, halus bertipe sikloid, tiap sisik terdapat garis-garis bertipe radier (melintang) dan pada garis pertumbuhan terdapat pigmen melanin dan guanin yang berwarna hijau dan biru, linea lateralis tunggal lurus, atau kadang terputus. Ekor besar dan tidak bercabang, panjang badan mencapai 180-250 cm dengan berat 150-250 kg. Sehingga ikan ini termasuk kategori berukuran besar.



Ikan Napoleon merupakan salah satu ikan karang besar yang hidup pada daerah tropis. Kehidupan hewan ini umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter. Para penyelam biasanya menemukan ikan ini berenang sendiri pada daerah sekitar karang. Dan biasanya sangat jinak dengan para penyelam. Ikan ini biasanya tidak terusik dengan aktivitas para penyelam. Kebiasaan hidup sendiri pada kedalaman tertentu membuat hewan ini sangat dinantikan oleh para penyelam untuk melihat atau bahkan memotret hewan ini.

Ikan napoleon memiliki dua habitat yang berbeda sesuai dengan fase usia ikan ini. Perbedaan tersebut lebih kepada masalah dangkal atau dalamnya perairan tempat tinggal atau habitat ikan tersebut. Sepanjang hidup ikan napoleon mulai dari penetasan, juvenil hingga dewasa, selalu berasosiasi dengan terumbu karang atau di habitat- habitat yang berdekatan terumbu karang, seperti padang lamun (seagrass beds) dan mangrove.

Ikan napoleon yang berusia muda (juvenile) hidup pada kedalaman ± 2-3 meter. Benih-benih ikan tersebut hidup di paparan terumbu yang dipenuhi oleh karang keras (hardcoral) dari genus Acropora dan Porites dan karang lunak (soft coral) dari jenis Sacrophyton spserta tumbuhan laut lainnya seperti algae (macroalgae) dan lamun (seagrass) dari jenis Enhalus acoroides. Benih-benih ikan tersebut berasosiasi dengan karang bercabang (branching coral) dari marga Acropora yang dijadikan habitat pada bagian bawah atau pangkal cabang yang di tumbuhi macroalgae.

Macroalgae yang disukai oleh benih ikan napoleon adalah dari genus Turbinaria. Juvenil yang berukuran 3- 20 cm atau lebih dijumpai di daerah terumbu di dalam goba (mendiami daerah goba) dengan karang yang subur (inner reef), terutama dari karang bertanduk dan Acropora spp, perairan yang keruh di terumbu karang, perairan dangkal berpasir dekat goba dan daerah mangrove yang berdekatan dengan terumbu karang.

Berbeda dengan anakan, induk atau ikan napoleon dewasa umumnya hidup pada tempat-tempat yang dalam, mereka menyukai hidup di tepi lereng terumbu yang curam (outer reef slopes) pada kedalaman 1-60 m atau di tebing-tebing karang (reefs drop-offs), dengan kedalaman sampai lebih dari 100 meter. Ikan napoleon juga menyukai hidup di perairan yang berarus kuat dan sedikit bergelombang dengan habitat yang memiliki batu vulkanik yang ditumbuhi biota karang. Susunan batu-batu vulkanik tersebut membentuk rongga- rongga yang menyerupai goa-goa kecil di bawah laut. Goa-goa batu tersebut merupakan tempat ikan napoleon dewasa bersembunyi jika dalam keadaan terancam.



Secara umum dapat disampaikan bahwa ikan napoleon dapat hidup di perairan dengan kondisi karang yang cukup baik, dengan tutupan karang hidup berkisar antara 50 sampai 70 % dan kecerahan (visibilitas) ±15 hingga 20 meter. Ikan napoleon biasa hidup pada lereng-lereng terumbu, dimana rataan dibawahnya banyak dijumpai gorgonian dari kelompok akar bahar (Rumpella sp.) dan cambuk laut (Juncella sp.)

Ikan napoleon diketahui menyebar pada wilayah terumbu karang antara perairan Samudera Hindia bagian barat sampai wilayah Indo-Pasifik. Berdasarkan catatan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) (CITES, 2004), napoleon dikatakan berada dalam 48 wilayah jurisdiksi negara dan teritori. Indonesia termasuk negara yang paling dominan sebagai wilayah penyebaran ikan napoleon di dunia.

Ikan napoleon termasuk kategori top predator, menduduki posisi tertinggi dalam rantai makanan dengan jenis makanan yang sangat bervariasi. Termasuk diantaranya ialah moluska (kelompok gastropoda dan pelecypoda), crustacea, echinodermata dan ikan (terutama jenis ikan gobi dan moray eel). Ikan napoleon juga sangat terkenal sebagai pemangsa mahkota bintang berduri atau crown-of-thorn, Acanthaster plancii
Sebagai hewan yang menempati posisi tertinggi dalam pola rantai makanan, ikan napoleon memegang peranan yang cukup penting dalam menjaga keseimbangan pada ekosistem karang.

Cara makan ikan napoleon adalah dengan membongkar karang mati dengan gigi besarnya untuk mencari siput dan cacing-cacingan yang terkubur. Mereka gemar sekali makan kerang-kerang yang berukuran besar seperti Triton. Ikan ini sanggup memecahkan cangkang kerang-kerangan tersebut dengan mudah untuk diambil dagingnya. Bunyi gerusan mulutnya ketika makan, sangat menarik bagi para penyelam sehingga diibaratkan seperti sekelompok anak-anak yang sedang memakan kembang gula. Kadang-kadang juga ikan besar ini mengasah giginya pada karang massif (padat) sehingga meninggalkan bekas goresan yang menakjubkan.

Salah satu makanan utama dari ikan napoleon ialah mahkota bintang berduri. Beberapa peneliti meyakini bahwa ikan napoleon juga secara aktif mengkonsumsi telur dari mahkota bintang berduri. Oleh karena itu keberadaan ikan napoleon dinyatakan sebagai salah satu key stone species. Jika jumlah populasi ikan napoleon berkurang, habitat terumbu karang diduga akan mengalami ledakan populasi mahkota bintang berduri.



Ikan napoleon termasuk ikan jenis sequential hermaphrodite, ialah mempunyai jenis kelamin tertentu pada awal kehidupannya sampai umur tertentu, selanjutnya melakukan perubahan kelamin. Pada kasus ikan napoleon, dia termasuk dalam kategori hermaphrodite protogynous, ialah mempunyai kelamin betina pada umur muda (sampai ukuran berat sekitar 1 kg), selanjutnya berkelamin jantan sepanjang sisa hidupnya. Hal ini menyulitkan dalam penentuan ukuran ikan yang boleh ditangkap.

Ikan napoleon memijah secara berpasangan dalam kelompok kecil (2 – 5 pasangan), namun bisa juga terjadi dalam kelompok (agregasi) yang relatif besar (> 5 pasang). Lokasi pemijahan lebih disukai reef-promentory (ujung tanjung terumbu karang yang memungkinkan terjadinya arus ke arah luar atau laut lepas. Setelah fase pembuahan, informasi siklus hidup ikan ini tidak banyak diketahui sampai munculnya ikan-ikan muda di pinggir karang.

Setelah pembuahan, telur ikan napoleon akan menyebar, dibawa arus dan menetas menjadi larva planktonik (fase larva planktonik tidak diketahui). Ketika mencapai ukuran 8 – 11 mm, larva menetap di dasar perairan pada atau sekitar terumbu karang. Larva ini paling banyak ditemukan pada 4 (empat) jenis karang keras (Acropora spp., dan Porites cylindricus) serta jenis karang lunak Sarcophyton sp. Beberapa peneliti menemukan larva fase ini juga menempel pada tanaman lamun jenis Enhalus acoroides. Ikan juvenile sering bermigrasi diantara habitat hutan bakau, lamun dan terumbu karang. Ikan dewasa berada pada terumbu karang bagian luar, terutama pada bagian terusan (reef channel) yang terbuka langsung dengan laut lepas.


Napoleon muda yang dibudidayakan dalam media pembesaran di keramba
https://lpsplsorong.wordpress.com/
Aktivitas pemijahan itu dimulai dengan berkeliling bersama secara perlahan membentuk suatu kelompok. Saat anggota kelompok bertambah, mereka berenang lebih cepat dan lebih cepat lagi, akhirnya makin rapat membentuk kelompok besar. Pada puncak hiruk-pikuk tadi, seluruh kelompok naik ke arah permukaan laut kemudian secepat kilat berbalik arah dan meninggalkan sebuah massa telur dan sperma di belakang yang segera terbawa oleh arus.

Jika proses bertelur dilakukan secara pasangan, yang jantan menyiapkan tempat bertelur pada seonggok karang atau batu yang menyolok. Dari sini dia menarik perhatian betina yang lewat, yang kira-kira bisa memberi harapan. Caranya, di atas calon pasangan dia bergerak ke atas dan ke bawah dan menggetarkan tubuhnya sembari berenang kembali. Kalau siap menerima pinangannya, si betina akan membalasnya dengan memberi sinyal ke ikan jantan yang meminangnya. Dengan bangga si betina melengkungkan tubuhnya membentuk huruf “S” sembari mempertontonkan perut buncitnya yang berisi telur. Mereka kemudian bertelur dalam suatu gerakan naik turun secara cepat ke permukaan. Proses bertelur ini berlangsung singkat dalam suatu hari, tergantung pada kondisi setempat. Di areal dengan arus pasang surut yang kuat, bertelur terjadi hanya setelah puncak pasang naik, keadaan yang ideal untuk memindahkan telur ke luar terumbu karang.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemijahan juga sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek, antara lain musim, bulan terang atau gelap (lunar phase), suhu air, pola arus dan geomorpologi dan topografi perairan yang ada di lokasi tertentu. Kondisi perairan (arus dan ombak) di tiap lokasi berbeda satu sama lainnya dan ini sangat dipengaruhi oleh musim (seasonal monsoon) yang terjadi di masing-masing wilayah. Kadang disatu tempat pada musim barat di wilayah tertentu akan terjadi ombak dan arus yang kuat dan suhu air laut (panas atau dingin), sedang di wilayah lain malah terjadi kebalikannya laut tenang. Kondisi laut disatu wilayah juga sangat ditentukan oleh gaya tarik bulan (bulan terang atau gelap). Oleh karena itu dibutuhkan penelitian yang cermat untuk menentukan kapan dan dimana Ikan napoleon akan memijah. Perairan satu dengan perairan lainnya akan berbeda satu sama lainnya.



Akibat dampak penangkapan berlebih untuk perdagangan ikan karang hidup, ikan napoleon mengalami penurunan populasinya di alam. Penangkapan ikan napoleon umumnya menggunakan racun sianida dan merusak ekosistem terumbu karang. Ikan Napoleon merupakan ikan yang memerlukan waktu lama untuk mencapai usia matang reproduktif.Ikan napoleon menjadi matang seksual pada usia 5 sampai 7 tahun (pada ukuran 40–60 cm). Ikan Napoloen di Negara Malaysia, dan Filipina ,sudah tidak boleh ditangkap dan diperdagangkan. Australia melarang semua mengambil dan memiliki Ikan Napoleon. Indonesia memungkinkan memancing hanya untuk penelitian, marikultur, dan memancing rakyat berlisensi.

Penelitian IUCN tahun 2005 di Sulut, Bali, Raja Ampat, dan NTT menunjukan bahwa di habitat yang mendapat tekanan (target penangkapan) sangat tinggi, ikan napoleon sangat jarang ditemukan, akan tetapi pada saat ikan tersebut tidak menjadi ikan target nelayan para penyelam masih dapat menemukan spesies tersebut. Hasil survei menunjukan bahwa tingkat kepadatan napoleon di kangean-Bali hanya 0,04 per ha, Bunaken-Sulut 0, 38 per ha, Raja Ampat 0,86 per ha, NTT 0,18 per ha, maratua 0,15 per ha, Banda 1,6 per ha. Menurut Sadovy dalam pemaparannya, akibat dampak penangkapan berlebih untuk perdagangan ikan karang hidup, ikan napoleon rentan (vulnerable) mengalami kepunahan. Oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), ditetapkan ikan Napoleon sebagai salah satu ikan yang dilindungi di dunia karena ikan ini telah langka dan terancam populasinya di alam.

Pada COP 13 CITES di Bangkok, Thailand pada tanggal 2 – 14 Oktober 2004 negara-negara anggota CITES telah menyepakati untuk memasukan jenis ikan ini kedalam Appendiks II CITES dan selanjutnya dalam pemanfaatannya harus sesuai dengan ketentuan CITES, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi CITES sesuai Keputusan Presiden Nomor : 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade In Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora. Dimana pengaturannya di Indonesia dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan c.q. Dirjen PHKA selaku otoritas pengelola CITES. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka pemanfaatan Ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus) yang tidak dilindungi undang-undang dan termasuk dalam Appendiks II CITES dalam penatausahaannya diatur sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar, yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SumberDaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor : 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.


Perenang berfoto dengan ikan napoleon berukan besar
Google Pictures






Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_Napoleon
http://bpsplpadang.kkp.go.id/klasifikasi-dan-morfologi-napoleon
https://elyanaonna.wordpress.com/2013/12/25/ikan-napoleon-cheilinus-undulatus/
https://pecintasatwa.com/ikan-napoleon-raja-laut-yang-diambang-kepunahan/
https://anjarelkastylo.wordpress.com/ikan-napoleon/
Sumber Gambar : Search Google Pictures

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online


No comments:

Post a Comment

Partisipasi anda akan terus menambah semangat kami berbagi lebih banyak lagi :) "tinggalkan komentar"!!