Breaking

22 April 2018

Lobster Air Laut (Panulirus sp.)


BDP Lobster Air Laut
Lobster air laut adalah salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Komoditas ini tidak asing dikalangan masyarakat penggemar makanan laut (sea food). Lobster air laut terkenal dengan dagingnya yang halus serta rasanya yang gurih dan lezat. Jika dibandingkan dengan udang jenis lainnya, lobster air laut memang jauh lebih enak. Tidak salah jika makanan ini merupakan makanan yang bergengsi yang hanya disajikan di restoran-restoran besar dan hotel-hotel berbintang. Di Indonesia, lobster juga disebut dengan nama udang barong atau udang karang, lobster juga memiliki berbagai nama daerah, beberapa diantaranya adalah urang takka (makasar), koloura (kendari), loppa (bone), hurang karang (sunda), udang puyuh (padang), dan lain-lain.

Lobster laut merupakan jenis hewan invertebrata yang memiliki kulit yang keras dan tergolong dalam kelompok arthropoda. Memiliki 5 fase hidup mulai dari proses produksi sperma telur, kemudian fase atau larva, post larva, juvenil dan dewasa. Secara umum lobster dewasa dapat ditemukan pada hamparan pasir yang terdapat spot-spot karang dengan kedalaman antara 5–100 meter. Lobster bersifat nokturnal (aktif pada malam hari) dan melakukan proses moulting (pergantian kulit).

Klasifikasi Lobster air laut

Klasifikasi Ilmiah :

Filum : Anthrophoda
Sub Filum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Bangsa : Decaphoda
Suku : Palinuridae
Genus : Panulirus 
Spesies : 
Panulirus homarus, P.Penicillatus, P.Longipes, P.versicolor, P.ornatus, P.poliphagus.

Secara morfologi lobster memiliki tubuh yang beruas-ruas seperti udang pada umumnya. Tubuh lobster terdiri atas dua bagian utama yaitu bagian kepala yang disebut cephalotorax dan bagian badan yang disebut abdomen. Pada bagian badan berbentuk ruas-ruas yang dilengkapi dengan lima pasang kaki renang dan sirip ekor yang berbentuk seperti kipas. Hal inilah yang membedakan lobster dengan udang pada umumnya.

Lobster atau spiny lobster (Panulirus sp), mudah dikenal karena bentuknya lebih besar dibandingkan dengan udang-udang lain. Selain bentuk tubuh yamg lebih besar, kerangka kulit lobster kaku, keras dan mempunyai zat kapur. Sedang udang kulitnya tipis, bening, tembus cahaya dan terdiri atas zat khitin. Hampir seluruh tubuh lobster terdapat duri-duri besar-kecil yang kokoh dan tajam-tajam, mulai dari ujung sungut kedua (second antena), kepala, bagian belakang badan dan lembaran ekornya.

Penampilan tubuhnya seram terutama pada bagian kepalanya. Kepala lobster sebetulnya merupakan gabungan kepala dan dada (cheplatorax), tertutup kerangka keras dari kapur, besar mengembung dan bisanya berduri. Di ujung kepala terdapat dua pasang sungut. Satu pasang sungut pertama berduri dan berbentuk seperti cambuk yang panjangnya melebihi panjang badan. Sepasang sungut yang kedua kecil dan bercabang, bentuknya juga seperti cambuk. Mempunyai lima pasang kaki. Sepasang kaki yang pertama tidak membesar namun membentuk seperti capit yang kuat.

Perutnya (bagian abdomen) kuat dan beruas. Pada ujung terdapat ekor yang terdiri dari lima lembar kipas yang tipis dan dapat ditekuk. Bagian ini biasa disebut ekor (europoda) dan bagian ujungnya disebut telson. Warna lobster yang biasa ditemui di pasaran adalah hiaju-tua dengan garis-garis putih melintang pada abdomen. Tangkai sungut yang besar (sungut pertama) biasanya berwarna merah muda.

Lobster air laut

Lobster yang dewasa mepunyai ukuran mencapai 20 cm dan sering berganti kulit (moulting). Tempat hidup lobster pada perairan dangkal sampai pada laut berkedalaman 400 meter (Kanciruk, 1980). Namun umumnya lobster hidup di daerah terumbu karang di perairan dangkal hingga pada kedalaman 100 m. Lobster berdiam di dalam lubang-lubang karang atau menempel pada dinding-dinding karang. Lobster yang muda menyukai perairan karang dangkal pada kedalaman 0,5-3,0 m, lobster muda menyukai perairan dengan dasar pasir berkarang yang ditumbuhi lamun. Setelah menginjak dewasa, lobster bergerak keperairan yang lebih dalam, dengam kedalaman anatar 7-40 m yang biasanya perpindahan dilakukan pada sore hari.

Lobster mempunyai daur hidup yang kompleks. Telur yang telah dibuahi menetas menjadi larva dengan beberapa macam tingkatan (stadium) yang berbeda pada tiap jenis. Untuk mengenali lobster jenis betina dan jantan dapat dilakukan secara morfologis, terutama pada lobster dewasa. Pada lobster betina, di dasar kaki jalan yang ketiga terdapat lubang peneluran. Pada pasangan kaki jalannya yang kelima terdapat capit yang tidak sempurna, yang terjadi karena perubahan ujung kaki yang tumbuh bercabang dua dan ujung ruas kaki berikutnya berubah menjadi semacam duri. Capit ini merupakan capit semu, gunanya untuk merobek kantung sperma yang ada pade waktu pemijahan ditempelkan di antara kaki-kaki ketiga, keempat dan kelima oleh lobster jantan.

Kaki renang lobster betina terdiri atas dua lembar, di mana lembaran sisi luar lebih besar (seperti daun) dari lembaran lainnya (lembaran sisi dalam). Lembaran sisi dalam ini agak bercagak dua, kaku, ramping dan berbulu panjang-panjang, gunanya agar waktu bertelur, telur-telur tersebut menempel sebelum menetas menjadi larva. Lobster betina lebih muda dikenal bila mengandung telur.

Pada lobster jantan, kaki jalannya semua sama, pada ujungnya hanya terdapat kuku-kuku runcung. Kaki renangnya hanya satu lembar. Lembaran kedua sama sekali tidak tumbuh, hanya berupa tonjolan seperti tumpul. Pada pangkal kaki kelima terdapat semacam tonjolan lipatan kulit yaitu liang sperma, tempat di mana sperma nantinya dikeluarkan pada waktu pemijahan. Pada lobster betina dan jantan masing-masing terdapat indung telur dan sepasang kantong sperma. Kantong sperma bermuara pada dasar kaki jalan kelima dan lubang peneluran bermuara pada dasar kaki jalan yang ketiga. Biasanya ukuran lobster jantan lebih besar dari betinanya, sehingga jantanlah yang paling banyak diincar dan diminati oleh penikmat lobster.

Lobster tidak melakukan pemijahan sepanjang tahun, melainkan pada musim-musim tertentu, walaupun lobster mampu memijah lebih dari satu kali. Banyaknya telur bergantung pada besar kecilnya lobster yang melakukan pemijahan. Biasanya antara 10.000-100.000, bahkan bisa mencapai lebih. Ukuran induk saat matang gonad sangat bervariasi. Lobster jenis P. Versicolor matang gonad setelah mencapai panjang karapas (CL) 66 mm untuk betina dan 72 mm untuk jantan. Untuk jenis P. Homarus, kematangan gonad betina dan jantan masing-masing CL-nya berukuran berukuran 54 mm dan 50-60 mm.

Waktu pemijahan, lobster jantan meletakan cairan kental dari liang spermanya ke dekat lubang peneluran yaitu di antara kaki ketiga, keempat dan kelima dari lobster betina. Kemudian cairan itu mengeras dan menjadi semacam kantong sperma. Setelah itu lobster betina mulai mengeluarkan butir-butir telur berwarna merah kunyit, yang melekat pada kaki-kaki renangnya dibawah abdomen. Kemudian lobster betina akan merobek kantong sperma tersebut dengan kaki yang runcing dan terjadilah pembuahan.

Dalam perkembangan selanjutnya lobster betina akan membawa telurnya ketempat yang lebih dalam. Biasanya kedasar perairan yang berbatu karang, berliang-liang atau bergua-gua. Lobster tidak menyukai tempat yang berarus kuat ataupun berombak berlebihan dan dasar yang berlumpur. Lobster menyukai perairan yang berumput laut dan banyak binatang kecil dan cacing.

Seperti halnya jenis dari bangsa udang dan kepiting lainnya, telur lobster tidak lansung menetas sempurna seperti lobster dewasa. Tetapi, melalui tingkatan-tingkatan perubahan yang dikenal dengan larva (embrio yang bisa hidup bebas). Telur yang telah masak akan menetas menjadi naupli lobster (nauplisoma) dalam waktu 3-5 hari. Fase nauplisoma umumnya berlansung relatif singkat, kemudian nanti berganti kulit menjadi filosoma (pyllosoma). Fase filosoma berlansung selama 3-7 bulan. Filosoma akan berkembang menjadi puerila (puerulus/puerilla). Bentuk puerila sudah mirip lobster dewasa, namun belum mempunyai kulit luar yang keras dan mengandung zat kapur. fase puerila berlansung selama 10-14 hari, kemudian berganti kulit menjadi lobster muda yang berukuran 7-10 cm dan sudah mempunyai kerangka luar yang mengandung zat kapur.

Lobster air laut

Lobster (Panulirus) adalah hewan nokturnal atau aktif di malam hari, terutama dalam mencari makan. Pada siang hari, lobster beristrhat dan bersembunyi di tempat-tempat yang gelap, di lubang-lubang dan di balik batu karang. Sifat nokturnal dapat dimanfaatkan oleh pembudidaya dengan memberi pakan pada sore menjelang malam atau malam hari dengan dosis yang lebih banyak. Wadah budidaya perlu dilengkapi dengan shelter (pelindung) yang menjadi tempat persembunyian lobster. Bahan yang digunakan berupa pipa paralon sepanjang 30-50 cm dengan diameter disesuaikan dengan ukuran lobster. Bisa juga menggunakan batu karang atau bata yang disusun memungkinkan lobster berlindung dan bersembunyi.

Habitat alami lobster adalah kawasan terumbu karang di perairan pantai dari yang dangkal sampai 100 meter di bawah permukaan laut. Di Indonesia, kawasan terumbu karang yang merupakan perairan hidup lobster seluas kurang lebih 67.000 km². Habitat lobster di Indonesia tersebar di perairan daerah Sumatera Barat, timur Sumatera, selatan dan utara Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Selat Malaka, timur Kalimantan, barat Kalimantan, selatan Kalimantan, utara dan selatan Sulawesi, serta Maluku dan Papua, terutama Laut Arafuru.

Harga lobster tergolong tinggi baik di pasar domestik maupun pasar ekspor. Nilai lobster yang tinggi dan akses pasar yang lancar mendorong penangkapan lobster di alam dilakukan secara intensif. Di Indonesia terdapat enam jenis lobster, namun yang banyak dikenal oleh masyarakat hanya dua jenis, yaitu lobster mutiara (Panulirus versicolor) dan lobster bambu (Panulirus penicillatus). Harga lobster mutiara biasanya lebih tinggi, dapat mencapai 2-3 kali lipat dibandingkan dengan lobster bambu. Kondisi fisik (morfologis) lobster pun sangat menentukan tingkat harga. Lobster yang masih hidup, sehat, dan tidak cacat cenderung lebih mahal. Sementara, lobster yang cacat atau mati, harganya jauh lebih murah untuk semua jenis.




Referensi :
awsassets.wwf.or.id/downloads/capture___bmp_lobster___des_2015.pdf
http://nindiyanastiti.blogspot.co.id/2014/11/budidaya-lobster-laut.html
http://lagilagibegadang.blogspot.co.id/2013/03/lobster-air-laut.html
https://farming.id/mengenal-lobster-udang-bernilai-tinggi/
https://apamaksud.com/blog/lobster-udang-karang/

No comments:

Post a Comment