Breaking

11 September 2018

Istilah dan Definisi Budidaya Perikanan Secara Menyeluruh



Untuk dapat memahami secara benar tentang segala aspek dalam perikanan budidaya, Anda sebaiknya perlu memahami terlebih dahulu mengenai definisi budidaya perikanan itu sendiri. Setelah mengerti apa yang dimaksud dengan definisi budidaya perikanan tersebut, selanjutnya adalah memahami tentang ruang lingkup budidaya perikanan yang ditinjau dari beberapa sudut pandang. Sementara itu, untuk lebih mempertajam dan mempeluas pemahaman serta wawasan mengenai budidaya perikanan maka Anda perlu mengetahui hakikat atau tujuan dari budidaya perikanan itu sendiri. 

Perikanan budidaya ternyata memiliki lebih dari satu definisi, yang berkorelasi dengan perkembangan budidaya perikanan itu sendiri, baik sebagai suatu kegiatan ekonomi, teknologi, produksi maupun konservasi. Ruang lingkup budidaya bisa ditinjau dari kegiatan, keruangan (spasial) dan media (sumber air) yang digunakan. 

Peninjauan ruang lingkup dari beberapa sudut pandang tersebut memberi pengertian akan luasnya cakupan budidaya perikanan. Lebih lanjut, apabila ditinjau dari tujuannya, budidaya perikanan ternyata tidak hanya memproduksi biota akuatik untuk tujuan konsumsi (produksi makanan) saja. Terdapat banyak tujuan budidaya perikanan, antara lain adalah perbaikan stok ikan di alam (restocking), produksi ikan umpan, rekreasi, konservasi, produksi ikan hias, daur ulang bahan organik, dan produksi bahan baku industri.

Budidaya perikanan memiliki beberapa istilah, antara lain akuakultur, perikanan budidaya, budidaya ikan dan budidaya perairan. Akuakultur berasal dari bahasa Inggris aquaculture (aqua = perairan, culture = budidaya) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi budidaya perairan atau budidaya perikanan. Aquaculture merupakan istilah budidaya perikanan yang sudah mendunia dan diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi akuakultur. Istilah akuakultur belum dipakai secara luas di Indonesia. Istilah ini banyak digunakan hanya oleh kalangan akademisi dan peneliti. 

Sementara itu, istilah budidaya perikanan atau budidaya ikan ternyata lebih banyak dipakai secara meluas, baik di kalangan pelaku (praktisi) kegiatan budidaya perikanan (masyarakat dan perusahaan), birokrasi pemerintah, akademisi dan peneliti, serta masyarakat pada umumnya. Statistik perikanan menggunakan istilah budidaya perikanan untuk mencatat data tentang budidaya perikanan, sebagai penyanding istilah perikanan tangkap untuk kegiatan produksi perikanan melalui kegiatan penangkapan. 

Ada upaya, terutama dari kalangan akademisi, untuk lebih memasarkan istilah akuakultur sebagai pengganti budidaya perikanan. Hal ini dilakukan untuk lebih mendekatkan pada istilah yang sudah mendunia, yaitu aquaculture (akuakultur). Budidaya perikanan itu sendiri didefinisikan sebagai suatu kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik secara terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit). Dengan penekanan pada kondisi terkontrol dan orientasi untuk mendapatkan keuntungan tersebut, definisi ini mengandung makna bahwa kegiatan budidaya perikanan adalah kegiatan ekonomi (prinsip-prinsip ekonomi) yang mengarah pada industri (tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu, dan tepat harga). 

Sebelum definisi tersebut di atas, sudah berkembang definisi budidaya perikanan sebagai campur tangan atau upaya-upaya manusia untuk meningkatkan produktivitas perairan melalui kegiatan budidaya. Kegiatan budidaya yang dimaksud adalah usaha pemeliharaan untuk mempertahankan kelangsungan hidup (survival), menumbuhkan (growth) dan memperbanyak (reproduction) biota akuatik. Definisi ini berkembang dengan memperhatikan evolusi produksi yang berlangsung di dalam perikanan. 

Kegiatan budidaya perikanan diawali oleh kegiatan perikanan tangkap, suatu kegiatan yang sudah dilakukan oleh manusia primitif sejak zaman purba. Produksi perikanan tangkap dibatasi oleh produktivitas alamiah suatu perairan (laut, sungai, danau atau waduk). Produktivitas (produksi bobot biomassa biota air per satuan volume air per waktu) alamiah perairan tersebut dapat ditingkatkan puluhan hingga ribuan kali oleh budidaya perikanan. Uraian berikut mencoba untuk menjelaskan definisi awal dari budidaya perikanan ini. 

Suatu perairan waduk yang memiliki luas 100.000 m2 dan kedalaman 10 m atau volume 1.000.000 m3 , ketika dikuras habis dan ikannya ditangkapi semua akan diperoleh produksi sebanyak 1.000 kg ikan maka produktivitas alamiah waduk tersebut adalah sebesar 1.000 kg/1.000.000 m3 atau 0,001 kg/m3 (Gambar 1.2). Manakala pada perairan waduk tersebut dibangun keramba jaring apung berukuran 111 m atau bervolume 1 m3 , dan dari keramba tersebut (melalui teknologi budidaya perikanan) bisa diproduksi ikan sebanyak 10 kg. Hal ini berarti bahwa, produktivitas keramba tersebut adalah sebesar 10 kg/m3 . Coba Anda bandingkan dengan produktivitas alamiah waduk yang hanya sebesar 0,001 kg/m3 sebelum dilakukan usaha budidaya keramba. 

Dengan demikian, melalui budidaya perikanan, produktivitas perairan waduk dalam memproduksi ikan bisa ditingkatkan hingga mencapai 10.000 kali. Teknologi budidaya perikanan pada paparan di atas mencakup konstruksi wadah produksi, pemilihan lokasi budidaya, penentuan pola tanam, penggunaan benih unggul dan padat penebaran (stocking density) yang tepat, pemberian pakan yang sesuai jumlah, mutu, waktu dan cara, pengendalian hama dan penyakit, pengelolaan air, pemantauan, pemanenan, dan penanganan pascapanen.



Referensi :
http://repository.ut.ac.id/4184/1/MMPI5201-M1.pdf

No comments:

Post a Comment