Breaking

19 September 2018

Manajemen Pakan Yang Baik Untuk Budidaya Ikan Lele



Para pembudidaya ikan lele dianjurkan untuk memanajemen pemberian pakan yang terprogram secara efektif dan effisien. Efektif dimana pakan yang di berikan bisa di makan ikan dan effesien dalam hal pembiayan modal pembelian pakan. Pada Prakteknya, sering ditemui di antara petani atau pembudidaya ikan lele adalah memberi makan lelenya sampai kenyang bahkan terkadang pakan tersebut terbuang sia sia karena sudah tak di makan oleh ikan lele. 

Para pembudidaya ikan lele terfikir atau ber asumsi bahwa semakin banyak lele makan maka semakin cepat dan besar pula lele yang dihasilkan dan ikan pun bisa cepa dipanen. Namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu, justru berlebihan memberi pakan akan membuat kegiatan usaha budidaya ikan lele menjadi tidak efektif bahkan merugi. 

Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Forum Komunikasi Mina Pantura di Jateng, membandingkan lele yang diberi makan sekitar 80% dari daya kenyang lele dengan lele yang diberi makan sekenyangnya.lele yang kekenyangan cenderung berdiam menggantung di permukaan air sehingga mudah diserang parasit dan bakteri.

Jika terjadi kondisi yang mengejutkan, seperti riak air secara tiba-tiba, ikan yang lambungnya penuh akan mudah memuntahkan kembali pakan yang telah dimakannya. Pakan tersebut secara tidak langsung akan menjadi amoniak dan akan menjadi racun pada ikan lele. Timbunan limbah ini akan menjadikan habitat ikan memburuk, seperti air berbusa, berwarna abnormal, dan sebagainya. Habitat Ikan lele yang rusak akan mengganggu perkembangan ikan lele

Ternyata, Perkembangan Ikan Lele lebih cepat besar yang 80% kenyang. Ketika makan 80%, sistem pencernaan lele punya waktu untuk menghasilkan enzim pemecah protein, karbohidrat, dan lemak . Dan Pakan Yang sudah di makan tidak dikeluarkan kembali karena kekenyangan.

Protein yang dimanfaatkan lele pun tidak seluruhnya, tetapi hanya sekitar 30% dari kadar unsur C (karbon), N (nitrogen), dan P (fosfor). Proten tersebut di manfaatkan untuk membuat tubuh ikan lele bertambah besar secara berlahan bukan sistem pencernaan dan lambung yang membesar akibat kekenyangan. Sisanya Protein dan zat yang lainnya akan terbuang lewat ekskresi dan feses. Jadi resiko akan menjadi racun sudah terurai dalam sistem pencernaan ikan lele.

Selain itu, dengan memberi makan sekitar 80% saja, pakan pun bisa dihemat. Jika untuk menghasilkan 1 ton lele dengan metode adlibitum (sekenyangnya) butuh 1 ton pakan, maka jika kita menerapkan metode 80%, maka hanya diperlukan 8 kuintal saja untuk mencapai berat yang sama. 

Pakan yang terbuang pun selain mencemari media perairan, juga menimbulkan kerugian finansial. Bila setiap hari pakan terbuang sebanyak 10 kg, maka dengan harga pakan Rp 8000/kg, potensi kerugiannya Rp 80.000/hari. Dalam hitungan bulan, kerugiannya akan terasa cukup besar.

Oleh karena itu, manajemen pakan lele penting untuk diperhatikan. Selain menghemat dengan metode 80%, lele juga dianjurkan puasa sehari dalam seminggu. Tujuannya untuk detoks sistem pencernaan dan memberi waktu untuk pergantian sel-sel organ pencernaan sehingga lebih sehat. 

Tidak hanya itu, puasa lele juga mampu mengurangi bau pelet pada malam hari dan memberi waktu bagi organisme di kolam untuk mengurai limbah organik. Sebetulnya, lele tidak 100% puasa. Ketika lele “berpuasa” pakan yang diberi manusia, lele akan tetap memanfaatkan pakan alami berupa flok berupa plankton yang ada di dalam kolam.

Pada dasarnya, pemberian pakan terprogram lebih baik daripada pemberian pakan sampai kenyang (dan jarang-jarang). Selain menjadikan ikan lebih sehat, kualitas air lebih bersih, FCR juga menjadi lebih baik.

No comments:

Post a Comment