Crustacea

[Crustacea][btop]

Mollusca

[Mollusca][stack]

Brackish Water

[Perairan payau][grids]

Proses Pembenihan Ikan Nila




Ikan nila (Oreocromis niloticus) atau juga disebut dengan ikan tilapia merupakan salah satu jenis ikan air tawar introduksi yang mempunyai nilai ekonomis cukup penting di beberapa daerah di Asia, termasuk Indonesia. Pertama kali, didatangkan ke Indonesia pada tahun 1969. Sejak saat itu, perkembangan budidaya ikan nila menjadi sangat pesat. Hal tersebut tidak lain karena ikan nila mempunyai kemampuan beradaptasi yang relatif baik terhadap lingkungan. Selain itu, nila juga mudah dipijahkan sehingga dapat mendukung pengembangan budidaya di masyarakat. 

Pada pembenihan ikan nila diperlukan beberapa hal untuk mendapatkan hasil yang optimal.

A. Pengelolaan Induk

Sebelum pemijahan, diperlukan induk yang benar-benar siap untuk dipijahkan. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, calon induk harus dipelihara pada kolam khusus sehingga pematangan gonadnya menjadi optimal. Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses pematangan gonad induk nila. 
  • Siapkan wadah berupa kolam tanah atau kolam tembok berukuran 50-100 m2 dengan kedalaman air 100-150 cm, usahakan agar debit air1 l/detik. 
  • Buat supaya kelarutan oksigen (DO) didalam kolam lebih dari 5 mg/l, pH 6,5-8, dan suhu air 27-30 C. 
  • Lakukan pemeliharaan induk secara terpisah antara jantan dan betina dengan kepadatan 3-5 ekor/m2. 
  • Berikan pakan dengan kandungan protein 30% dan dosinya 3% dari biomassa induk dengan frekuensi pemberian tiga kali sehari. 
B. Seleksi Induk Siap Pijah 

Induk-induk yang telah matang gonad akan siap untuk dipijahkan. Namun, kematangan gonad induk tidak serentak atau terjadi secara bersamaan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya seleksi induk yang kematangan gonadnya sudah sangat maksimal. Dengan demikian, jumlah benih yang dihasilkan juga akan banyak dan optimal. Berikut tahapan menyeleksi induk-induk yang sudah matang gonad. 
  • Induk dipilih satu persatu yang sudah matang gonad dengan mengamati urogenitalnya (kelamin). 
  • Urogenital induk betina berwarna merah dan membundar serta perutnya melebar. 
  • Pada bagian urogenital induk jantan agak meruncing dengan warna kemerah-merahan dan jika ditekan pada bagian perut akan mengeluarkan cairan.. 
  • Gunakan induk jantan dengan berat minimal 300 g dan induk betina dengan berat minimal 250 g (masa produktif induk selama dua tahun). 
  • Tubuh normal, tidak cacat, dan sehat. 
  • Sisik tersusun rapi dan mulus, serta sirip yang lengkap. 
  • Perbandingan antara panjang dan lebar tubuh proporsional (2,5:1). 
C. Pemijahan Induk 

Pemijahan nila dapat dilakukan dikolam tanah atau kolam beton. Secara umum, persiapannya tidak terlalu jauh berbeda diantara keduanya. Namun, kolam tanah adalah jenis kolam yang paling umum digunakan dalam pemijahan ikan nila, terutama pada sistem tradisional. Akan tetapi, kolam tanah juga bisa diterapkan dengan sistem intensif yaitu para pembenih biasanya melakukan persiapan-persiapan agar hasilnya maksimal. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam pemijahan ikan nila. 
  • Buat kolam dengan luas 50 - 100 m2 
  • Rapihkan semua bagian kolam, antara lain kemalir, pematang, serta saluran masuk dan keluar air (inlet/outlet). 
  • Keringkan kolam hingga dasar tanahnya retak-retak atau minimal 3 hari dengan kondisi sinar matahari yang cukup baik. 
  • Tebar kapur di dasar kolam secara merata dengan dosisi 20 g/m2. 
  • Lakukan pemupukan dengan pupuk kandang seperti kotoran ayam dengan dosis 500 g/m2 dan ditebar secara merata didasar kolam. 
  • Isi air dengan ketinggian 70-100 cm lalu biarkan selama 2-3 hari untuk menumbuhkan pakan alami. 
  • Lakukan pemijaha secara masal dengan perbandingan antara jantan dan betina 1 : 3 serta padat tebar induk 1 - 2 ekor/m2. 
  • Selama masa pemijahan berlangsung berikan pakan dengan kandungan protein 30% dengan dosis 3% per hari dan frekuensi 2 - 3 kali sehari. 
D. Panen Larva

Pemijahan yang berhasil akan terindikasi dari keberadaan telur di dalam mulut induk. Ikan nila termasuk salah satu hewan yang bersifat parental care, yaitu memelihara telur sampai menetas di dalam mulutnya. Induk yang baik akan memijah 2 - 3 hari setelah induk ditebar. Telur yang dihasilkan dari pemijahan biasanya akan menetas dalam waktu 2 - 3 hari, lalu kuning telurnya akan habis dalam waktu 2 - 3 hari pula. Jadi, sebaiknya larva dikeluarkan dari mulut induknya setelah telur menetas yaitu 4 - 6 hari. Walaupun induk bisa mengeluarkan larva secara alami, tindakan demikian untuk menghindari agar tidak ada larva yang hilang karena termakan oleh induknya. Tapi, untuk lebih amannya larva mulai dipanen setelah 7 - 8 hari pasca penebaran induk.

E. Pendederan dan Pemeliharaan Larva

Pendederan adalah tahap pemeliharaan larva samapai mendapatkan benih dengan ukuran tertetu. Dalam melakukan pendederan, ada beberapa prosedur yang harus diterapkan sehingga hasil yang diperoleh bisa maksimal. Pertama, kolam pendederan harus dipersiapka terlebih dahulu sebelum digunakan. Secara umum, luas kolam yang digunakan bervariasi mulai dari ukuran 10 m2 samapi ukuran cukup luas yaitu 100 - 500 m2. Untuk persiapannya sama seperti persiapan kolan untuk pemijahan seperti yang sudah tertulis di atas. Kedua penebaran larva, sebelum larva ditebar perlu dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian suhu antara wadah pemeliharaan sebelumnya dengan suhu kolam. Untuk pengaturan padat tebar, bisa disesuaikan dengan kedalaman kolam. Kolam dengan kedalaman 60 - 100 cm bisa menggunakan padat tebar 100 - 150 ekor/m2. sementara itu, jika kedalaman kolam antara 100 - 120 cm bisa menerapkan padat tebar 200 - 250 ekor/m2. Benih yang sudah ditebar selanjutnya dipelihara samapai menjadi benih yang siap dijual. Ketiga pakan, untuk larva sebaiknya pakan mengandung protein sekitar 25 - 28% dan lemak tidak lebih dari 6%. Pakan berbentuk tepung sangat tepat diberikan karena sudah dapat dicerna oleh larva. Pemberian pakan larva dilakukan sebanyak 3 - 4 kali sehari dengan dosis 10 - 20% dari biomass total.

F. Panen Benih 

Panen merupakan tahap akhir dari kegiata budidaya. Karena, dimulai dari tahap pendederan akan menghasilakan panen benih berupa ukuran tertentu. Selama 50 hari pemeliharaan dari larva, akan dihasilkan benih nila berukuran 100 - 150 ekor /kg. untuk menghindari benih stres, pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari yaitu pada saat suhu rendah.




Referensi : 
Nugroho, Estu. Nila Unggul #1. Jakarta, swadaya 2013. 
Ari, U. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Jakarta, Swadaya 2008.



No comments: