Breaking

11 September 2018

Ruang Lingkup Budidaya Perikanan Berdasarkan Sumber Air



Budidaya perikanan merupakan upaya manusia dalam rangka untuk meningkatkan produktivitas alamiah pada suatu perairan (laut, sungai, danau, atau waduk). Ruang lingkup budidaya perikanan (akuakultur) ternyata memiliki cakupan yang sangat luas apabila ditinjau dari berbagai sudut pandang. Ruang lingkup akuakultur tersebut dapat didasarkan pada ruang (spasial), sumber air yang digunakan, sumber air dan jenis kegiatan. Berikut ini adalah ruang lingkup budidaya perikanan berdasarkan beberapa sudut pandang tersebut.

Air yang digunakan sebagai media untuk keperluan budidaya perikanan dibedakan berdasarkan salinitas atau kandungan garam NaCl-nya menjadi perairan tawar, perairan payau, dan perairan laut. Perairan tawar memiliki salinitas (kadar garam) sebesar 0 ppt (part per thousand = satu gram garam dalam satu liter air), sedangkan perairan payau dan laut memiliki salinitas masing-masing 1-32 ppt dan >32 ppt. 

Perairan tawar terdapat di daratan berupa mata air, sungai, danau, waduk, saluran irigasi, air hujan dan air sumur, serta genangan air lainnya di pegunungan, perbukitan, dataran tinggi hingga dataran rendah dan pantai. Perairan payau terdapat di kawasan pesisir, seperti pantai, muara sungai, dan rawa payau, serta kawasan yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Nilai salinitas perairan di kawasan ini bergantung pada pengaruh tersebut sehingga menjadi perairan payau yang mengarah ke tawar atau payau yang mengarah ke asin. 

Perairan laut dengan kadar salinitas >32 ppt terdapat di laut atau kawasan pantai yang kurang dipengaruhi oleh perairan di daratan (terestrial) sehingga memiliki salinitas yang tinggi seperti halnya di laut lepas. Berdasarkan sumber air yang digunakan untuk kegiatan produksi budidaya perikanan maka dikenal budidaya air tawar (freshwater culture), budidaya air payau (brackishwater culture) dan budidaya laut (mariculture) marikultur (Gambar 1.4). Budidaya air tawar dilakukan dengan menggunakan sumber air dari perairan tawar, sedangkan budidaya air payau dan marikultur masing-masing menggunakan perairan payau dan laut sebagai sumber airnya.

Oleh karena itu, umumnya lokasi budidaya perikanan baik budidaya air tawar, budidaya air payau maupun marikultur, bersifat khas. Budidaya air tawar dilakukan di daratan di mana terdapat sumber air tawar yang bisa berupa mata air, sungai, danau, waduk, saluran irigasi, air hujan dan air sumur, serta genangan air lainnya, baik di pegunungan, perbukitan, dataran tinggi hingga dataran rendah dan pantai. 

Budidaya air payau umumnya dilakukan di kawasan pesisir, seperti pantai, muara sungai, dan rawa payau, serta kawasan lainnya yang masih dipengaruhi pasang surut air laut. Marikultur dilakukan di laut atau di lokasi di mana sumber air laut relatif mudah diakses. Kekhasan lokasi budidaya tersebut sering kali tidak terjadi, terutama pada kegiatan pembenihan yang merupakan salah satu kegiatan utama budidaya perikanan. Sebagai contoh, pembenihan dan penampungan ikan laut dilakukan di darat, bahkan jauh dari laut dengan cara mengambil dan membawa air laut ke lokasi tersebut. 

Keberadaan dan sifat sumber daya air mempengaruhi kegiatan budidaya perikanan yang dikembangkan, termasuk komoditas (biota) yang dipilih. Komoditas yang dipelihara dalam budidaya air tawar, budidaya air payau dan marikultur adalah spesies yang berasal dari habitat tersebut atau sudah beradaptasi masing-masing di lingkungan air tawar, air payau dan air laut. 

Komoditas budidaya air tawar adalah biota akuatik yang memiliki habitat alamiah perairan tawar. Komoditas budidaya air payau dan marikultur adalah biota akuatik yang memiliki habitat alamiah perairan payau dan laut. Biota perairan payau umumnya memiliki toleransi yang tinggi terhadap kisaran salinitas yang lebar, dari perairan hampir tawar hingga perairan hampir asin (laut) sehingga biota ini bisa dibudidayakan di luar habitat alamiahnya. Sebagai contoh, ikan bandeng (Chanos chanos) dan udang windu (Penaeus monodon) yang merupakan spesies perairan payau, namun ternyata bisa dibudidayakan masing-masing di dalam keramba jaring apung di waduk dan sawah, yang pada dasarnya merupakan perairan tawar.



Baca Juga :

No comments:

Post a Comment