Crustacea

[Crustacea][btop]

Brackish Water

[Perairan payau][grids]

Mengenal Cacing Sutra (Tubifex sp) Sebagai Pakan Alami Yang Baik Untuk Benih Ikan



Cacing Sutra / Rambut sangat populer di kalangan para pencinta dunia perikanan Indoensia khusunya para pembudidaya Ikan. Karena peranan dari cacing sutra untuk mensuplay kebutuhan pakan khususnya pada benih ikan. Cacing Sutra lebih terkenal di beberapa daerah dengan nama yang berbeda beda misalnya Cacing Sutra, Cacing Tubilex atau sebutan untuk jenis pakan alternatif pembudidaya berupa cacing Rambut.


Cacing sutra atau cacing rambut merupakan pakan alami yang penting dalam kegiatan pembenihan ikan. Pakan yang dibutuhkan dalam pembenihan selain dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk hidup dan tumbuh, juga untuk memenuhi kebutuhan pigmen warna dalam tubuh bagi ikan hias. Syarat pakan tersebut dipenuhi oleh pakan alami cacing sutra, cacing ini memiliki kandungan protein sampai 57 %.

Cacing sutra atau cacing rambut termasuk kedalam kelompok cacing–cacingan (Tubifex sp). Dalam ilmu taksonomi hewan, cacing sutra digolongkan kedalam kelompok Nematoda. Embel–embel sutra diberikan karena cacing ini memiliki tubuh yang lunak dan sangat lembut seperti halnya sutra. Sementara itu julukan cacing rambut diberikan lantaran bentuk tubuhnya yang panjang dan sangat halus tak bedanya seperti rambut.

Klasifikasi Ilmiah :

Phylum : Annelida
Class : Oligochaeta
Ordo : Haplotaxida 
Famili : Tubificidae
Genus : Tubifex
Spesies : Tubifex sp

Secara umum cacing sutra atau cacing rambut terdiri atas dua lapisan otot yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Panjangnya 10–30 mm dengan warna tubuh kemerahan, saluran pencernaannya berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus. Cacing sutra (Tubifex sp) ini hidup berkoloni bagian ekornya berada dipermukaan dan berfungsi sebagai alat bernafas dengan cara difusi langsung dari udara.


Cacing sutra tidak mempunyai insang dan bentuk tubuh yang kecil dan tipis. Karena bentuk tubuhnya kecil dan tipis, pertukaran oksigen dan karbondioksida sering terjadi pada permukaan tubuhnya yang banyak mengandung pembuluh darah. Kebanyakan Tubifex membuat tabung pada lumpur di dasar perairan, di mana bagian akhir posterior tubuhnya menonjol keluar dari tabung bergerak bolak-balik sambil melambai-lambai secara aktif di dalam air, sehingga terjadi sirkulasi air dan cacing akan memperoleh oksigen melalui permukaan tubuhnya. Getaran pada bagian posterior tubuh dari Tubifex dapat membantu fungsi pernafasan.

Cacing sutra banyak hidup di perairan tawar yang airnya jernih dan mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengadung bahan organik, makanan utamannya adalah bahan-bahan organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan. Perairan yang banyak dihuni Cacing sutra ini sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai. Cacing suta Tubifex sp biasanya hidup disaluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan bahan makanan. 

Cacing Sutra hidupnya berkoloni, bagian ekornya berada di permukaan dan berfungsi sebagai alat bernapas dengan cara difusi langsung dari udara. Cacing Sutera (Tubifex sp) merupakan organisme dasar (benthos) yang suka membenamkan diri dalam lumpur seperti benang kusut dan kepala terkubur serta ekornya melambai-lambai dalam air kemudian bergerak dan berputar-putar. Cara makan Cacing Sutera golongan tubifidae yaitu permukaan atau di dalam sedimen dengan membuat lubang berupa tabung dan menyaring makanan atau mengumpulkan partikel halus dipermukaan. Makanan tersebut dapat berupa bahan organik dan detritus.

Cacing Tubifex sp umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secar berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis. Spesies cacing sutra ini bisa mentolelir perairan dengan salinitas dengan 10 ppt. Terdapat dua faktor yang mendukung habitat hidup Cacing sutra / rambut ialah endapan lumpur dan tumpukan bahan organik yang banyak. Oksigen terlarut merupaka parameter yang sangat penting dalam kehidupan setiap organisme yang hidup. Setiap organisme hidup pasti membutuhkan oksigen untuk respirasi yang selanjutnya akan digunakan dalam proses metabolisme untuk merombak bahan organik yang dimakan menjadi sari makanan yang dimanfaatkan sebagai energi untuk tumbuh berkembang biak dan bergerak. 

Kelimpahan Cacing Sutra akan berkurang dimana keanekaragaman jenis organisme tinggi. Kelimpahannya akan semangkin tinggi bila standing corps rendah sekalipun. Maka predator pemakan cacing akan banyak dalam kondisi perairan seperti di atas. Dan jika semua jenis cacing tak ditemui dalam perairan maka dapat dikatakan perairan tersebut dalam keadaan tercemar logam berat. Ketinggian air pada lingkungan pemeliharaan Cacing sutra / rambut berpengaruh terhadap ketahanan hidup dan perkembangannya. Jika air terlalu tinggi, maka koloni atau populasi Cacing sutra akan tidak berkembang bahkan akan mengalami kematian karena Cacing ini membutuhkan oksigen dari luar untuk bernapas. Sedangkan apabila air terlau rendah atau sedikit, maka lingkungannya akan cepat panas sehingga Cacing Tubifex sp tidak akan dapat bertahan hidup lebih lama. 

Ketinggian air yang optimal pada populasi Cacing sutra adalah setinggi 6 cm. Semakin tinggi kadar amoniak pada kelimpahan Cacing sutra semangkin rendah. Meningkatnya kadar amoniak hingga 0,29-0,96 mg/l diikuti dengan menurunya kelimpahan Cacing Tubifex sp. Air sungai yang suhunya naik akan mengganggu kehidupan hewan air dan organisme air lainnya karena kadar oksigen terlarut dalam air akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu. Padahal setiap kehidupan memerlukan oksigen untuk bernapas. Oksigen yang terlarut dalam air berasal dari udara yang secara lambat terdifusi ke dalam air. Kebanyakan Cacing sutra membangun tabung pada substratnya dan bagian ekornya melambai-lambai, sehingga bisa membuat sirkulasi air dan membuat oksigen lebih banyak untuk diterima oleh permukaan tubuh. 

Cacing Tubifex sp adalah termasuk organisme hermaprodite. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 (dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur. Hasil perkembangbiakannya berupa telur yang dihasilkan oleh cacing yang telah mengalami kematangan sel kelamin betinanya. Telur ini selanjutnya dibuahi oleh kelamin jantan telah matang.


Sama seperti Cacing yang lain, spesies Cacing sutra ini merupakan jenis hermaprodit tetapi untuk membuahi sel telurnya diperlukan sperma dari cacing lainya dan berkembang biak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur. Telur Cacing Tubifex sp terjadi di dalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bulat telur, panjang 1 mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Telur yang ada di dalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio Cacing Tubifex sp akan keluar dari kokon. Cacing Tubifex sp dewasa dapat menghasilkan kista telurnya yang dapat bertahan dalam kekeringan selam dua minggu dan lebih lama lagi pada daerah pembuangan yang ditutupi oleh sampah.

Habitat dan penyebaran cacing sutra umumnya berada di daerah tropis. Umumnya berada disaluran air atau kubangan dangkal berlumpur yang airnya mengalir perlahan, misalnya selokan tempat mengalirnya limbah dan pemukiman penduduk atau saluran pembuangan limbah peternakan. Selain itu, cacing sutra juga ditemukan di saluran pembuangan kolam, saluran pembuangan limbah sumur atau limbah rumah tangga umumnya kaya akan bahan organik karena bahan organik ini merupakan suplai makanan terbesar bagi cacing sutra (Tubifex sp).

Makanan oligochaeta akuatik sebagian besar terdiri dari ganggang berfilament, diatom dan detritus berbagai tanaman dan hewan. Sebagian besar oligochaeta memperoleh makanan dengan menyaring substrat seperti kebiasaan cacing yang lain. Komponen organik pada substrat ditelan melalui saluran pencernaan. Cacing ini memperoleh makanan pada kedalaman 2-3 cm dari permukaan substrat. Cacing sutra mencari makan dengan cara masuk ke dalam sedimen, beberapa sentimeter di bawah permukaan sedimen dan memilih bahan makanan yang kecil serta lembek.

Demikian ulasan singkat tentang "mengenal cacing sutra sebagai pakan alami yang baik untuk benih ikan. Semoga bermanfaat.




Referensi :
http://pustaka-gampong.blogspot.com/2012/01/bubidaya-cacing-tubifex.html
https://putingsusuku.blogspot.com/2017/07/mengenal-cacing-sutra-tubifex-sp-pakan.html
https://www.lalaukan.com/2015/04/mengenal-cacing-sutera-dan-peluang.html
http://penyuluhpi.blogspot.com/2014/06/budidaya-cacing-sutera.html



No comments: