Inilah Faktor Keberhasilan Pendistribusian Ikan Hidup dan Sistem Pengangkutannya



 pasang iklan


 pasang iklan

Transportasi ikan hidup pada dasarnya adalah memaksa menempatkan hasil perikanan tersebut pada suatu lingkungan yang berbeda dengan lingkungan asalnya disertai dengan perubahan-perubahan sifat lingkungan yang relative sangat mendadak, dimana perubahan tersebut sangat mengancam kehidupan ikan. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi transportasi ikan hidup adalah jenis, umur, dan ukuran ikan, ketahanan relative ikan, tempertatur air, lama pengangkutan dan lama istirahat, sifat alami wadah pengangkutan dan kondisi klimatologi pada saat transportasi. 
 

Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan, oksigen, suhu, pH, CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan.

1). Kualitas Ikan
Kualitas ikan yang ditransportasikan harus dalam keadaan sehat dan baik. Ikan yang kualitasnya rendah memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dalam waktu pengangkutan yang lebih lama dibandingkan dengan ikan yang kondisinya sehat.

2). Oksigen
Kemampuan ikan untuk menggunakan oksigen tergantung dari tingkat toleransi ikan terhadap perubahan lingkungan, suhu air, pH, konsentrasi CO2 dan hasil metabolisme seperti amoniak. Biasanya dasar yang digunakan untuk mengukur konsumsi O2 oleh ikan selama transportasi adalah berat ikan dan suhu air. Jumlah O2 yang dikonsumsi ikan selalu tergantung pada jumlah oksigen yang tersedia. Jika kandungan O2 meningkatikan akan mengkonsumsi O2 pada kondisi stabil dan ketika kadar O2 menurun konsumsi O2 oleh ikan lebih rendah dibandingkan konsumsi pada kondisi kadar O2 yang tinggi.

3). Suhu
Suhu merupakan faktor yang penting dalam transportasi ikan. Suhu optimum untuk transportasi ikan adalah 6 – 8 oC untuk ikan yang hidup di daerah dingin dan suhu 15 – 20 oC untuk ikan di daerah tropis.

4). Nilai pH, CO2, dan amoniak
Nilai pH air merupakan faktor kontrol yang bersifat teknik akibat kandungan CO2 dan amoniak. CO2 sebagai hasil respirasi ikan akan mengubah pH air menjadi asam selama transportasi. Nilai pH optimum selama transportasi ikan hidup adalah 7 sampai 8. Perubahan pH menyebabkan ikan menjadi stres, untuk menanggulanginya dapat digunakan larutan bufer untuk menstabilkan pH air selama transportasi ikan. Amoniak merupakan anorganik nitrogen yang berasal dari eksresi organisme perairan, permukaan, penguraian senyawa nitrogen oleh bakteri pengurai, serta limbah industri atau rumah tangga.

5). Kepadatan dan aktivitas ikan selama transportasi
Perbandingan antara volume ikan dan volume air selama transportasi tidak boleh lebih dari 1 : 3 . Ikan-ikan lebih besar, seperti induk ikan dapat ditrasportasi dengan perbandingan ikan dan air sebesar 1 : 2 sampai 1 : 3 , tetapi untuk ikan-ikan kecil perbandingan ini menurun sampai 1 : 100 atau 1 : 200. Kesegaran ikan juga dipengaruhi oleh kondisi apakah ikan dalam keadaan meronta-ronta dan letih selama transportasi. Ketika ikan berada dalam wadah selama transportasi, ikan-ikan selalu berusaha melakukan aktivitas. Selama aktivitas otot berjalan, suplai darah dan oksigen tidak memenuhi, sehingga perlu disediakan oksigen yang cukup sbagai alternatif pengganti energi yang digunakan. 10 2.3

Pengangkutan Sistem Basah
Transportasi ikan untuk konsumsi diharapkan dapat mempertahankan mutu ikan mulai dari daerah pemanenenan sampai ketangan konsumen. Pada transportasi ikan hidup dengan sistem basah pada umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu cara terbuka dan cara tertutup. Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Sistem Terbuka
Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah terbuka atau tertutup tetapi secara terus menerus diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan. Cara terbuka dilakukan dengan mengangkut ikan dalam wadah yang diisi air dan diberikan aerasi secara terus menerus untuk mensuplai oksigen dari luar selama transportasi berlangsung.

b. Sistem Tertutup
Dengan cara ini ikan diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup. 11 Sedangkan cara tertutup menggunakan wadah tertutup dengan suplai oksigen diberikan secara terbatas sesuai dengan kebutuhan yang telah diperhitungkan selama pengangkutan dengan menggunakan wadah polyethyleneatau unit-unit transportasi tertutup lainya.Wadah-wadah tersebut banyak digunakan untuk mengangkut anak-anak ikan.

Transportasi anak-anak ikan dalam kantong polyethylene dengan penambahan oksigen merupakan metode transportasi yang telah tersebar di dunia dan dianggap cuckup efektif. Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah selalu terbentuk buih yang disebabkan banyaknya lendir dan kotoran ikan yang dikeluarkan. Kematian diduga karena pada saat diangkut, walaupun sudah diberok selama satu hari, isi perut masih ada. Sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Disamping itu, bobot air cukup tinggi, yaitu 1 : 3 atau 1 : 4 bagian ikan dengan air menjadi kendala tersendiri untuk dapat meningkatkan volume ikan yang diangkut.

Transportasi Sistem Kering
Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunakan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, terutama jika mencapai basal, makin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar. Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunkan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik. Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap 2.5 Pengaruh

Kepadatan terhadap Transportasi Ikan Hidup
Kepadatan ikan adalah bobot ikan yang berada dalam suatu wadah dan waktu tertentu. Kepadatan ikan yang dapat diangkut tiap wadah, untuk masa angkut tertentu dengan hanya sedikit atau tanpa kematian seekor pun merupakan persoalan penting dalam pengangkutan. Kepadatan ikan yang diangkut tergantung kepada volume air, bobot dan ukuran ikan, jarak dan lama pengangkutan, suplai oksigen dan temperatur. Tingkat kepadatan ini ada batasnya, karena bila ikan di angkut pada kepadatan yang terlalu tinggi, kadar glikogen dalam plasma meningkat dan mempengaruhi kondisi ikan.
 
Demikian pembahasan singkat mengenai faktor keberhasilan pendistribusian ikan hidup dan sistem pengangkutannya. Dimuat berdasarkan keterangan dari http://eprints.umm.ac.id/43778/3/BAB%20II.pdf. Gambar di comot dari google penelusuran gambar dengan kata pencarian "pengangkutan ikan hidup, pendistribusian ikan hidup". Sekian, semoga menjadi bacaan yang bermanfaat!! Terimakasih.



 pasang iklan


No comments: