Sekilas Metode Budidaya Pembenihan dan Pembesaran Biota Laut Teripang



 pasang iklan


 pasang iklan

Teripang disebut juga sebagai ketimun lau (sea cucumber) karena bentuknya yang dianggap seperti sayuran buah ketimun. Teripang ini telah dikenal dan dimanfaatkan sejak lama oleh bangsa Cina. Sejak Dinasti Ming, teripang telah dijadikan hidangan istimewa pada perayaan, pesta, dan hari-hari besar serta disebut-sebut pula mempunyai khasiat pengobatan untuk beberapa penyakit. Di negara tersebut, dilaporkan bahwa secara medis tubuh dan kulit teripang jenis Stichopus japomcus berkhasiat menyembuhkan penyakit ginjal, paru-paru basah, anemia, anti-inflamasi, dan mencegah arteriosklerosis serta penuaan jaringan tubuh. Di samping itu, ekstrak mumi dari teripang mempunyai kecenderungan menghasilkan holotoksin yang efeknya sama dengan antimicyn dengan kadar 6,25 - 25 mikrogram/mililiter. 
 
 
 Di Indonesia sendiri, teripang telah dimanfaatkan cukup lama terutama oleh masyarakat di sekitar pantai sebagai bahan makanan. Untuk konsumsi pasaran internasional, biasanya teripang diperdagangkan dalam bentuk daging dan kulit kering. Sebagai bahan pangan, teripang mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi dan rasanya sangat lezat. Teripang kering mempunyai kadar protein tinggi, yaitu 82 %, dengan kandungan asam amino yang lengkap. Sedangkan lemak yang dikandung teripang mempunyai asam lemak tidak jenuh jenis W-3 yang penting untuk kesehatan jantung.   
 
 
Pada umumnya budidaya teripang dilakukan di perairan pantai pada kawasan pasang surut. Ini disebabkan karena potensi lahan pantai masih cukup luas. Namun demikian, teripang mempunyai kemungkinan pula untuk dibudidayakan di kolam air laut (tambak) dengan syarat tertentu. Secara umum, perairan pantai yang memiliki benih teripang alami cocok untuk tempat budi daya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan suatu lokasi yang tidak memiliki benih alami juga cocok untuk tempat budi daya.  
 
Jenis teripang yang sudah dan banyak dibudidayakan di negara Indonesia ialah teripang putih (Holothuria scabra). Hal ini dikarenakan harga teripang ini mahal, pertumbuhannya cepat, lebih toleran terhadap perubahan lingkungan, dan dapat dibudidayakan dengan padat penebaran tinggi. Oleh karena itu, pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan lokasi ini diutamakan untuk jenis teripang putih walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada jenis-jenis teripang lain. Hal ini mengingat setiap jenis teripang mempunyai sifat biologi spesifik yang berbeda, tetapi secara umum habitatnya relatif sama. 
 
Pemilihan lokasi budidaya teripang
  1. Lokasi terlindung; Lokasi budidaya harus terlindung dari pengaruh ams, gelombang, maupun angin yang besar. Arus, gelombang, atau angin yang besar akan memsak sarana budi daya serta menyulitkan dalam pengelolaan budi daya. Lokasi yang terlindung dari pengaruh seperti ini biasa diketemukan di perairan teluk, laguna, atau perairan terbuka yang terlindung oleh gugusan pulau atau karang penghalang.
  2. Kedalaman air; Kedalaman air di lokasi budi daya sebaiknya berkisar antara 0,5 - 1 m dihitung pada waktu surut terendah, sedangkan pada pasang tertinggi kedalaman perairan sebaiknya tidak lebih dari 2 m. Hal ini untuk menghindarkan teripang dari kekeringan atau kenaikan suhu air yang dapat mengganggu kehidupannya.
  3. Dasar perairan; Dasar perairan sebaiknya landai, terdiri dari pasir dan pecahan-pecahan karang, berlumpur, dan banyak ditumbuhi ilalang laut/lamun serta rumput laut. Karang, ilalang laut, serta rumput laut ini selain berfungsi sebagai pelindung, juga berfungsi sebagai perangkap makanan untuk teripang.
  4. Perairan jernih; Perairan harus jernih, bebas pencemaran dengan nilai kecerahan 50 - 150 cm yang diukur dengan piring seicchi.
  5. Kualitas air; Lokasi budidaya yang dipilih sebaiknya mempunyai kisaran suhu air 24 - 30°C, kadar garam 28 - 32 ppt, pH air 6,5 - 8,5, oksigen terlarut 4 - 8 ppm, dan mempunyai gerakan air cukup (kecepatan arus 0,3 - 0,5 m/detik).
  6. Ketersediaan benih; Benih merupakan salah satu faktor produksi yang cukup penting. Oleh karena itu, untuk menjamin kelangsungan budi daya teripang, harus tersedia benih yang cukup baik kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas. Lokasi budidaya sebaiknya dekat dengan sumber benih atau lokasi itu memiliki benih alami. Terdapatnya benih alami di lokasi itu merupakan petunjuk bahwa lokasi itu cocok untuk tempat budi daya. Di samping itu, kualitas benih akan terjaga tidak mengalami stress karena penanganan dan pengangkutan dan tidak perlu lagi biaya untuk pengangkutan. 
  7. Kemudahan Lokasi budidaya harus mudah dijangkau. Selain itu, sarana produksi harus mudah diperoleh dan pemasaran harus dapat dilakukan dengan mudah di tempat itu. Pertimbangan lainnya, lokasi budi daya sebaiknya bukan merupakan. pusat kegiatan nelayan, bukan daerah penangkapan ikan, bukan wilayah pelayaran, dan bukan daerah pariwisata sehingga benturan kepentingan dapat dihindarkan.   
 
Desain dan Kontruksi Sarana Budidaya Teripang
Pada dasarnya metode budidaya teripang ialah membatasi areal di laut untuk luasan tertentu agar teripang yang dipelihara terkurung di dalamnya, tidak dapat meloloskan diri dan tidak mendapat serangan hama. Dengan demikian, tambak yang tidak produktif asalkan kondisi air dan tanahnya memenuhi syarat untuk kehidupan teripang dapat pula digunakan sebagai tempat budi daya. Metode budi daya teripang tidak jauh berbeda dengan metode budi daya kerang-kerangan, misalnya kerang darah atau kerang bulu, yang dikenal dengan metode pen culture kurungan tancap atau kurungan pagar.  
 
Teripang merupakan hewan yang hidup di dasar perairan dan pergerakannya relatif lambat. Meskipun gerakan teripang tergolong lambat, desain dan konstruksi kurungan pagar harus dapat menjamin teripang tidak lolos dari dasar kurungan pagar. Di samping itu, karena pergerakan teripang relatif lambat, maka binatang laut ini dapat dibudidayakan dengan padat penebaran yang cukup tinggi.  
 
Desain dan konstruksi kurungan pagar umumnya dibedakan menjadi dua berdasarkan bahan kurungan pagar yang dipergunakan yaitu kurungan pagar dari bambu dan kurungan pagar dari jaring.

1. Kurungan pagar dari bambu
Bentuk dan ukuran kurungan pagar dari bambu sangat bervariasi, dalam arti tidak ada aturan yang pasti. Pada dasarnya bentuk dan ukuran ini tergantung pada kemampuan pengelolaan, modal yang dimiliki, dan lokasi budi daya yang tersedia. Bentuk kurungan pagar umumnya empat persegi panjang atau bujur sangkar. Luasnya antara 400 m2 (20 m x 20 m) sampai 800 m2 (40 m x 20 m), sedangkan tinggi dari dasar perairan adalah 75 - 100 cm. Berikut ini adalah urutan pembuatan kurungan pagar bambu.  
 
 
a) Bilah bambu yang berukuran lebar 2 - 4 cm dan panjang 125 - 150 cm dirangkaikan satu sama lain dengan tali polietilen yang berdiameter 3 - 4 mm sehingga menyerupai kerai bambu. Ujung bilah bambu bagian bawah dibuat runcing agar mudah ditancapkan ke dasar perairan. Untuk memudahkan pemasangan, rangkaian bilah bambu dibuat pendek, 4 - 5 m.
 
b) Rangkaian bilah bambu yang telah dibuat ditancapkan di dasar perairan tempat budidaya teripang. Untuk memperkuat, rangkaian ini, setiap 1 - 2 m diberi tiang penyangga dan bambu atau kayu. Pemasangan rangkaian bilah bambu ini disesuaikan dengan bentuk dan ukuran yang kita kehendaki. Kurungan pagar siap dioperasikan sebagai tempat budi daya teripang.

2. Kurungan pagar dari jaring
Bentuk dan ukuran kurungan pagar dari jaring juga bervariasi. Umumnya berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar dengan ukuran 400 m2 (20 m x 20 m) sampai 800 m2 (40 m x 20 m). Pembuatannya dapat dilakukan dengan urutan seperti berikut ini.  
 
 
a) Tancapkan pancang kayu/bambu ke dasar perairan sesuai bentuk dan ukuran kurungan pagar yang kita kehendaki. Jarak antar pancang berkisar antara 1 - 2 m, sedangkan tinggi pancang dari dasar perairan berkisar antara 75 - 100 cm.  
 
b) Jaring dari bahan polietilen dengan lebar mata 0,5 - 1 inci direntangkan pada pancang kayu yang telah kita pasang di lokasi budi daya. Bagian jaring yang berada di dasar perairan diikatkan pada sebilah papan yang dibenamkan di dasar perairan agar teripang tidak meloloskan diri. 
 
c) Jaring bagian atas diberi tali lis dari bahan polietilen yang berdiameter 0,6 - 0,8 cm agar kuat dan terbuka mata jaringnya. Kurungan pagar dari jaring siap dioperasikan.  
 
Karakteristik Benih
Benih teripang dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu benih alami yang dikumpulkan dari alam dan benih hasil pembenihan buatan di hatchery (panti benih).
 

Benih dari alam
Benih alami biasanya banyak ditemukan di kawasan pasang surut yang berdasar lumpur berpasir dan banyak ditumbuhi tumbuhan laut, seperti ilalang laut dan rumput laut. Benih alami ini mempunyai ciri sebagai berikut.
  • Bentuk badan bulat panjang dengan bagian perut merata serta bersekat-sekat melintang berwarna putih.
  • Di antara sekat-sekat tubuh di bagian punggung terdapat garis-garis hitam.
  • Benih alami. Banyak ditemukan di kawasan pasang surut yang berdasar Lumpur berpasir dan ditumbuhi tumbuhan laut
  • Kulit tubuh tebal dan kasar. Jika diraba, terasa kasar seperti ada butiran pasir.
Benih dari alam ini bisa diambil langsung dengan tangan pada saat air laut surut. Pekerjaan ini biasa dilakukan oleh nelayan pada waktu malam hari dengan penerangan obor atau lampu petromaks. Pada malam hari terutama saat air surut, benih teripang cenderung berada di permukaan pasir sehingga mudah diambil. Nelayan biasanya menampung benih tersebut dalam wadah yang berisi air laut. Atau, sering kali hanya diletakkan di dalam perahu yang mereka tumpangi dan diberi air laut. Selanjutnya, benih dibawa ke tempat pembesaran.
 
Adakalanya pengambilan benih dilakukan pada siang hari dengan cara menyelam. Pekerjaan ini relatif lebih sulit jika dibanding pada malam hari karena pada siang hari teripang lebih suka berlindung di bawah batu karang atau membenamkan diri di bawah pasir sehingga agak sulit dilihat. Di samping itu, untuk menghindari panas di siang hari, teripang cenderung memilih perairan yang lebih dalam dengan gelombang yang tidak terlalu besar dan lokasi cukup terlindung, misalnya di laguna dan teluk. Benih yang diambil dari alam berukuran sekitar 10 cm. Ukuran sebesar ini pada umumnya bisa langsung dibesarkan pada kurungan pemeliharaan.  
 
Metode Pembenihan Teripang
a. Sarana pembenihan
Sarana yang diperlukan untuk pembenihan teripang buatan tidak begitu banyak, terdiri dari beberapa buah bak sebagai tempat penampungan induk, pemeliharaan larva, dan kultur plankton. Bak-bak ini sebaiknya dibuat dengan beton. Namun demikian, dapat pula dibuat dari kayu yang dilapisi plastik. Beberapa sarana lain yang diperlukan adalah sebagai berikut.
  • Saringan pasir untuk menyaring air laut agar betul-betul bersih.
  • Bak penampungan air yang dilengkapi dengan saringan pasir. Ukuran bak ini disesuaikan dengan kebutuhan air laut untuk penggantian air pada seluruh unit pembenihan. Penempatan bak diatur supaya gaya gravitasi bisa menyalurkan air dari satu bak ke bak lainnya.
  • Pipa penyalur air yang dilengkapi dengan beberapa saringan dengan berbagai ukuran, 1,5 - 2 mikron.
  • Bak penampungan induk dengan kapasitas 1,5 - 2 ton air, kedalaman bak 0,75 - 1 m.
  • Bak pemijahan dengan kapasitas sekitar 1,5 ton air, berjumlah 2 atau 3 buah dengan kedalaman sekitar 50 cm.
  • Bak pemeliharaan larva, berjumlah 10 - 15 buah dengan ukuran (1 x 2 x 0,5) m.
  • Bak pemeliharaan juvenil, berjumlah 8 - 10 buah dengan ukuran (2 x 4 x 0,6) m.
  • Bak plankton, berjumlah 3 - 5 buah dengan ukuran (2 x 4 x 0,75) m.
 
b. Pemeliharaan dan seleksi induk
Kualitas induk merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan penyediaan benih melalui pemijahan buatan. Waktu pengambilan induk yang tepat atau pengalaman tentang musim puncak kematangan gonad merupakan kunci keberhasilan dalam mendapatkan calon induk yang memenuhi syarat untuk dipijahkan.  
 
Sebelum memulai kegiatan pengumpulan induk, sebaiknya dilakukan pengambilan contoh atau sampel. Sampel itu akan memberikan gambaran kepada kita apakah induk siap dipijahkan atau belum. Pengumpulan yang terlalu cepat dari waktu kematangan gonad akan menghasilkan induk yang gonadnya belum matang penuh. Sebaliknya, jika pengumpulannya terlambat, induk akan memijah di laut. 
 
 
Pengumpulan calon induk teripang dari laut dapat dilakukan dengan penyelaman pada siang hari. Apabila dilakukan pada malam hari, harus dibantu dengan alat penerang berupa obor atau lampu petromaks. Dengan cara ini, induk teripang dapat diambil langsung dengan tangan. Pada perairan yang agak dalam, induk teripang dapat diambil dari atas perahu dengan bantuan alat semacam tombak bermata dua yang tumpul.

Calon induk teripang yang diperoleh dikumpulkan dalam wadah yang berisi air laut atau ditaruh di dalam palka perahu yang telah diisi air laut. Untuk pengumpulan/pengangkutan calon induk pada siang hari, sebaiknya wadah penampungan atau palka ditutup rumput laut atau ilalang laut untuk menghindarkan calon induk dan sinar matahari secara langsung. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu.  
 
Secara umum, peryaratan calon induk teripang yang sudah siap dipijahkan adalah sebagai berikut.
  • Tubuh atau kulit dagingnya tebal, ukuran tubuh 25 - 35 cm atau seberat 400 - 600 g.
  • Sehat dan tidak memiliki luka pada permukaan tubuhnya.
  • Jumlahnya mencukupi untuk kesinambungan kegiatan pembenihan.
Umumnya berat tubuh teripang berpengaruh langsung atau berkorelasi terhadap berat gonad dan indeks kematangan gonad serta fekunditas (jumlah sel telur yang dihasilkan per satuan berat). Karena teripang merupakan organisme yang sangat sulit dibedakan jenis kelaminnya, maka pembedaan jenis kelamin umumnya dilakukan berdasarkan ukuran beraf tubuh. Induk yang telah diseleksi dipelihara di dalam kurungan tancap di laut atau di kolam air laut atau langsung dipelihara di dalam bak induk dengan kepadatan 5 - 10 ekor/m2. Bak induk umumnya terbuat dari beton, berbentuk empat persegi panjang, dan berkapasitas 1,5 - 2 ton air.  
 
Khusus untuk pemdiharaan induk di kolam air laut, kedalaman air diusahakan antara 75 - 100 cm. Selain itu, diusahakan selalu ada pergantian air agar stabilitas suhu dan salinitas tetap terjaga. Persediaan pakan juga harus terjamin dan perlu adanya penambahan pakan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan induk di bak pemijahan adalah sebagai berikut.
  • Kualitas air tetap terjaga baik. Bila perlu, dilakukan penggantian air setengah atau sepertiga dari volume, sehari dua kali, pagi dan sore.
  • Kotoran yang ada di dalam bak hams segera dibersihkan.
  • Pakan tambahan diberikan secukupnya.
  • Kebiasaan atau kesukaan induk harus dipantau secara kontinu. 
 
Metode Pembesaran teripang
Padat tebar benih
Teripang merupakan hewan yang gerakannya lamban dan dapat hidup secara berkelompok. Sehingga upaya peningkatan produksi persatuan luas lahan dapat dilakukan dengan peningkatan padat penebaran. Padat penebaran untuk budidaya teripang ditentukan oleh ukuran benih. Benih dengan berat antara 30 - 40 g/ekor ditebarkan sebanyak 15 - 20 ekor/m2, sedangkan benih dengan berat antara 40 - 50 g/ekor padat penebarannya adalah 10 - 15 ekor/m2. Sehingga untuk satu unit lahan budi daya seluas 400 m2 diperlukan benih teripang sebanyak 6.000 - 8.000 ekor dengan berat 30 - 40 g/ekor dan panjang 5 - 7 cm/ekor. Sedangkan untuk benih dengan berat 40 - 50 g/ekor diperlukan sebanyak 4.000 - 6.000 ekor.  
 
Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, benih yang ditebarkan pun harus baik pula. Ciri-ciri benih teripang yang baik antara lain berwarna cerah dan tidak cacat, bila dipegang tidak cepat lembek dan lendirnya tidak terlalu banyak, gerakannya aktif, dan tubuhnya tidak bengkok atau tidak menggelembung.  
 
Penebaran benih sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari agar benih terhindar dari stres. Sebelum benih ditebarkan perlu diaklimatisasikan terlebih dahulu dengan cara kondisi air di lokasi budi daya disesuaikan dengan kondisi air di tempat penampungan benih. Apabila teripang mengalami stres akan terjadi pengeluaran isi perut dan kekakuan tubuh sehingga mengakibatkan kematian. 
 

Pemberian pakan
Pakan alami teripang yang berupa plankton, detritus atau sisa-sisa bahan organik, dan sisa-sisa endapan di dasar laut dapat diperoleh di sekitar lingkungan budi daya. Namun demikian, teripang yang dibudidayakan sebaiknya diberi pakan tambahan untuk mempercepat pertumbuhan.
 
 Pakan tambahan itu berfungsi untuk menambah kesuburan perairan dan umumnya berupa campuran kotoran hewan dan dedak halus dengan perbandingan 1 : 1. Pakan diberikan sebanyak 0,2 - 0,5 kg/m2/2 minggu. Pakan diberikan dengan cara ditempatkan dalam karung goni yang berlubang-lubang sehingga keluar sedikit demi sedikit. Hal ini bertujuan untuk mencegah hanyutnya pakan karena arus atau gelombang. Dalam setiap kantong goni biasanya berisi pakan tambahan sebanyak 10 - 15 kg. Jumlah tersebut dapat mencukupi untuk luasan budi daya 30 - 50 m2.  
 
Aktivitas teripang, termasuk mencari makanan di dasar perairan, umumnya berlangsung pada malam hari. Pada siang hari hewan ini lebih senang membenamkan diri dalam pasir atau beristirahat di sela-sela karang untuk menghindari hewan pemangsa. Dilihat dari jenis, jumlah dan cara penyediaan pakannya, budi daya teripang tidak membutuhkan biaya operasional yang tinggi. Lagipula, bahan pakan teripang dapat diperoleh dengan mudah di sekitar kita.  
 
Pengendalian hama dan penyakit
Beberapa jenis hama maupun hewan penyaing seperti kepiting, bulu babi, dan bintang laut harus disingkirkan dari kurungan pagar. Hama dapat mengakibatkan kerusakan fisik pada tubuh teripang, misalnya terluka atau bahkan akan memangsanya. Sedangkan hewan penyaing merugikan karena berkompetisi dalam hal perolehan pakan, ruang gerak, dan sebagainya. Kerusakan fisik pada tubuh teripang karena serangan hama dapat menimbulkan penyakit. Luka yang tidak segera diobati menjadi bertambah besar. Akibatnya, makin lama fisik teripang semakin lemah. Untuk itu, pengobatan teripang yang terluka harus segera dilakukan dengan merendamnya dalam larutan acriflauin 4 ppm atau methylen blue 4 ppm selama 0,5 - 1 jam. Setelah diobati, teripang ditempatkan dalam bak penampungan selama 1 - 2 hari. 
 
Organisme-organisme penempel seperti rumput laut, teritip, dan sponge yang menempel pada kurungan pagar harus dibersihkan secara berkala. Keberadaan organisme-organisme penempel ini akan mengganggu sirkulasi air dalam kurungan pagar dan menurunkan kualitas air, yarig berakibat kurang baik bagi pertumbuhan teripang. Oleh karena itu, pengamatan dan pembersihan kurungan pagar secara rutin mutlak dilakukan.
 
Demikianlah Pembahasan tentang sekilas metode budidaya pembenihan dan pembesaran biota laut teripang. Dimuat dari http://komunitaspenyuluhperikanan.blogspot.com/. Gambar di muat berdasarkan pencarian google, kata kunci "teripang, klasifikasi teripang, budidaya teripang, syarat budidaya teripang, kegiatan pembenihan teripang, pemeliharaan teripang, metode pembesaran teripang'. Sekian semoga menjadi bacaan yang menambah wawasan kitan dan bermanfaat!! Terimakasih.



 pasang iklan


No comments: