Proses Pembuahan dan Tahap Perkembangan Telur Ikan





Proses pembuahan pada ikan terjadi apabila spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang mikropil yang terdapat pada chorion. Tiap spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur, tetapi karena ruang tempat terjadinya pembuahan pada ikan ovipar sangat besar, maka kesempatan spermatozoa itu untuk bertemu dengan telur sebenarnya sangat kecil. Oleh karena itu, spermatozoa yang dikeluarkan jumlahnya sangat besar dibandingkan dengan jumlah telur yang akan dibuahi, sehingga dalam kondisi yang optimum spermatozoa ikan yang baru dikeluarkan dari tubuh mempunyai kekuatan untuk bergerak dalam air selama 1 – 2 menit.


Berdasarkan kepada penelitian yang dilakukan oleh Hartman dan juga oleh Motalenti (Hoar, 1957 dalam Effendie, 1997) telur dan sperma yang baru dikeluarkan dari tubuh induk, mengeluarkan zat kimia yang berguna dalam proses pembuahan. Zat yang dikeluarkan oleh telur dan sperma tersebut dinamakan Gamone. Gamone yang berasal dari telur adalah Gynamone I dan Gynamone II, sedangkan Gamone yang berasal dari spermatozoa adalah Androgamone I dan Androgamone II. Gynamone I berfungsi untuk mempercepat pergerakan dan menarik spermatozoa dari spesies yang sama secara kemotaksis. Gynamone II berfungsi untuk mengumpulkan dan menahan spermatozoa pad permukaan telur. Fungsi Androgamone I ialah untuk menenkan aktivitas spermatozoa ketika masih berada dalam saluran genital ikan jantan, sedangkan Androgamone II berfungsi untuk membuat permukaan chorion menjadi lembek sebagai lawan dari fungsi Gynamone II.  
 
Lapisan telur yang sudah berada dalam air adalah keras dan tidak dapat ditembus oleh spermatozoa kecuali melalui mikropil yang bentuknya seperti corong. Lubang corong yang besar terletak di bagian luar dan lubang yang kecil di bagian dalam. Ketika spermatozoa masuk ke dalam lubang corong, itu merupakan sumbat bagi yang lainnya dan setelah kepala spermatozoa itu masuk, bagian ekornya terlepas.  
 
Dengan demikian pembuahan pada ikan umumnya monosperma. Apabila terjadi pembuahan polysperma hanya satu spermatozoa saja yang melebur bersatu dengan inti telur.sedangkan yang lainnya dihisap oleh telur sebagai bahan makanannya. Sesaat setelah terjadi pembuahan, isi telur agak sedikit mengkerut karena pecahnya rongga alveoli yang terdapat di dalam telur, sehingga menyebabkan rongga perivitelline lebih membesar sehingga telur yang telah dibuahi dapat mengadakan pergerakan rotasi selama dalam perkembangannya sampai menetas.  
 
Setelah terjadi pembuahan, telur akan mengalami masa pengeraman oleh induknya hingga menetas menjadi larva ikan. Lama masa pengeraman ikan tidak sama bergantung kepada spesies ikannya dan beberapa faktor luar. Faktor luar yang terutama mempengaruhi pengeraman ialah suhu perairan. Dalam bidang kultur ikan, sehubungan dengan masa pengeraman dikenal dengan istilah derajat hari, yaitu hasil perkalian derajat suhu perairan dengan lama pengeraman. Derajat hari untuk spesies ikan ada yang nilainya tetap, ada yang berubah-ubah.


Perkembangan embrio pada ikan zebra  
 
Faktor cahaya juga dapat mempengaruhi masa pengeraman ikan. Telur yang sedang dalam masa pengeraman apabila diletakkan dalam tempat yang gelap akan menetas lebih lambat. Faktor luar lainnya yang dapat mempengaruhi masa pengeraman ialah zat yang terlarut dalam air terutama zat asam arang dan ammonia dapat menyebabkan kematian embrio dalam masa pengeraman. Tekanan zat asam dalam air telah diketahui dapat mempengaruhi untur meristik yaitu jumlah ruas tulangg belakang. Bila tekanan zat asam itu tinggi, jumlah ruas tulang belakang embrio menjadi bertambah dan sebaliknya apabila tekanan zat asam arang berkurang jumlah ruas tulang belakang berkurang jumlahnya.  
 
Menetas merupakan saat terakhir masa pengeraman sebagai hasil beberapa proses sehingga embrio keluar dari cangkangnya. Pada saat akan terjadi penetasan seperti yang telah dikemukakan, kekerasan chorion semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh substansi enzim dan unsur kimia lainnya yang dikeluarkan oleh kelenjar endodermal di daerah pharink. Enzim ini dinamakan chorionase yang terdiri dari pseudokeratin yang kerjanya bersifat mereduksi chorion menjadi lembik. Dalam proses ini pH dan suhu memegang peranan. pH 7,9 – 9,6 dan suhu 14 – 20°C merupakan kondisi yang optimum.  
 
Pada waktu akan terjadi penetasan, embrio sering mengubah posisinya karena kekurangan ruang di dalam cangkang. Dengan pergerakan-pergerakan tersebut bagian cangkang telur yang telah lembik akan pecah. Umumnya, dua atau tiga kali pembetulan posisinya embrio mengatur dirinya lagi. Pada bagian cangkang yang pecah ujung ekor embrio dikeluarkan terlebih dahulu sambil digerakkan. Kepalanya dikeluarkan terakhir karena ukurannya lebih besar dibandingkan dengan bagian tubuh yang lainnya, namun kadangkala didapatkan kepala yang keluar lebih dulu.  
 
Anak ikan yang baru ditetaskan tersebut dinamakan larva, dengan tubuhnya yang belum sempurna baik organ luar maupun organ dalamnya. Sehubungan dengan perkembangan larva ini, terdapat dua tahap perkembangan yaitu prolarva dan postlarva. Prolarva biasanya masih mempunyai kantung kuning telur, tubuhnya transparan dengan beberapa butir pigmen yang fungsinya belum diketahui. Sirip dada dan ekor sudah ada tetapi belum sempurna bentuknya dan kebanyakan prolarva yang baru keluar dari cangkang telur ini tidak punya sirip perut yang nyata melainkan hanya bentuk tonjolan saja. Mulut dan rahang belum berkembang dan ususnya masih merupakan tabung yang lurus. Sistem pernafasan dan peredaran darah tidak sempurna. Makanannya didapatkan dari sisa kuning telur yang belum habis dihisap. Adakalanya larva ikan yang baru ditetaskan letaknya dalam keadaan terbalik karena kuning telurnya masih mengandung minyak. Apabila kuning telur tersebut telah habis dihisap, larva akan kembali seperti biasa.  
 
Larva ikan yang baru ditetaskan pergerakannya hanya sewaktu-waktu saja dengan menggerakkan bagian ekornya ke kiri dan kekanan dengan banyak diselingi oleh istirahat karena tidak dapat mempertahankan keseimbangan posisi tegak. Postlarva merupakan masa larva dimana kantung kuning telur mulai hilang sampai terbentuknya organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan organ-organ yang telah ada sehingga pada masa akhir dari postlarva tersebut secara morfologi sudah mempunyai bentuk hampir seperti induknya. Pada tahap postlarva ini, larva tersebut sudah terdapat pigmentasi yang banyk pada bagian tubuh tertentu. Perkembangan dari telur hingga larva dapat dilihat pada gambar berikut :

 
Ketereangan:
 
1. Pembuahan Telur
2. Pembelahan 2 sel
3. pembelahan 4 sel
4. pembelahan 8 sel
5. morula
6. blastula
7. gastrula
8.9. penutupan blastopore

Demikian ulasan singkat tentang Proses Pembuahan dan Perkembangan Telur Ikan. Dimuat berdasarkan sumber dari :
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.
Moyle, P.B. & J.J. Cech. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology. Second Edition. Prentice Hall, New Jersey.
Tomiyama, T & Hibiya, T. 1979. Fisheris in Japan. Jacks & Pompanas. Japan Marine Products Photo Material Association. 
Gambar dimuat berdasarkan penelusuran google gambar dengan kata pencarian "pembuahan teur ikan, proses pembuahan telur ikan, siklur perkembangan telur ikan". Sekian, semoga dapat menjadi referensi bacaan yang bermanfaat! Terimakasih.





No comments: