Kelomang atau Umang Umang Jenis Kepiting Pertapa Yang Gemar Berganti Cangkang






Kelomang atau umang-umang disebut pula sebagai ketam pertapa atau kepiting pertapa, adalah hewan golongan crustacea dari superfamili Paguroidea. Dalam bahasa Inggris disebut dengan hermit crab (ketam pertapa) ini karena perilakunya yang gemar mengembara dan kebiasaannya hidup sendiri di rumah atau cangkangnya. Kelomang sudah lama dikenal terutama oleh anak-anak sebagai mainan hidup yang lucu. Hewan ini mempunyai keunikan tersendiri, yakni bersembunyi di dalam cangkang molluska yang selalu dibawa kemana saja ia pergi.
 
 
 
Kelomang atau si kepiting pertapa terbagi menjadi dua, yaitu kelomang darat dan air. Kelomang air, umumnya hidup di air asin atau laut. Sebagian besar spesies adalah di air dan hidup dari perairan dangkal dan garis pantai sampai ke dasar laut dalam. Pada daerah tropis terdapat beberapa spesies darat, meskipun begitu, mereka memiliki larva akuatik dan karena itu memerlukan akses ke air untuk reproduksi. Kebanyakan kelomang aktif di malam hari atau biasa juga dikenal sebagai hewan nocturnal.  
 
Banyak yang salah mengartikan kelomang yaitu sebagai keong, mereka adalah dua hewan yang berbeda. keong merupakan hewan lunak berkaki perut, dan bercangkang tunggal, atau gastropoda. Sedangkan kelomang sendiri bukanlah hewan lunak yang berkaki perut. Hermit crab atau kepiting pertapa sering dibedakan speciesnya berdasarkan rumah yang dibawanya. Dan keunikan serta warna warni cangkang kelomang membuatnya sering dijadikan hewan peliharaan. Bahkan sudah diperjual belikan dengan harga yang cukup mahal.  
 
Klasifikasi dan karakteristik morfologis kelomang.  
 
Kelomang lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan superfamilia Chirostyloidea (ketam jongkok) dan Hippoidea (undur-undur laut) ketimbang dengan kepiting sejati (Brachyura). Pada pihak yang lain, berkerabat dengan ketam raja (king crabs). 
 
Dituliskan dari sumber bahwa banyak penelitian yang mendasarkan pada karakteristik fisik, informasi genetik, dan kombinasi keduanya mendukung hipotesis lama bahwa ketam raja dalam familia Lithodidae berasal dari nenek moyang serupa kelomang dan harus ditempatkan dalam superfamilia Paguroidea bersama kelomang. Akan tetapi beberapa peneliti yang lain tidak sepakat, dan menyatakan bahwa suku ketam raja (Lithodidae) harus diklasifikasikan tersendiri bersama suku Hapalogastridae dalam superfamili Lithodoidea yang terpisah. Sejauh ini enam suku krustasea secara resmi diakui sebagai anggota superfamilia Paguroidea, yang berisi seluruhnya sekitar 1.100 spesies dari 120 marga.
 
 
 
Klasifikasi Ilmiah :  
 
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Infraordo : Anomura
Superfamili : Paguroidea. 
 
Kelomang memiliki struktur tubuh yang memanjang, asimetris, silindris dan pipih. Ciri lain dari tubuh yang asimetris ini adalah pleopod hanya terletak di sebelah kiri abdomen. Meskipun kelomang dari beberapa genus Coenobita primitif mempunyai sepasang pelopod. Kriteria inilah yang dipakai untuk memisahkan kelomang dari kepiting-kepiting lain secara taksonomi.  
 
Kebanyakan spesies kelomang memiliki abdomen (perut) yang panjang dan bergelung bagai spiral, serta lunak lembut, tidak keras seperti abdomen krustasea lain yang terlindung cangkang terkalsifikasi. Abdomen yang telanjang dan rentan ini dilindungi dari serangan predator dengan memanfaatkan cangkang siput kosong yang dibawa-bawa oleh kelomang; cangkang siput itu dapat menyembunyikan seluruh tubuhnya apabila ditarik masuk (karenanya, dinamakan rumah).  
 
Untuk keperluan itu, kelomang paling sering menggunakan cangkang siput laut (meskipun beberapa spesies kelomang juga menggunakan cangkang kerang, bahkan kepingan kayu dan batu yang berlubang sebagai rumahnya). Ujung abdomen kelomang telah beradaptasi untuk dapat mencengkeram kuat kolumela (tiang poros) cangkang siput. 
 
Kelomang memiliki kaki berjumlah sepuluh. Sepasang kaki depannya berbentuk capit, berfungsi untuk memegang atau menyerang mangsanya. Kaki kedua dan ketiga berfungsi untuk melakukan pergerakan, kaki keempat dan atau hanya kaki kelima posturnya mengecil dengan ujungnya yang berbentuk capit kecil, memiliki bulu yang lebat yang fungsinya untuk membersihkan tubuh, terutama insang dan telur pada betina. 
 
Habitat tempat hidup kelomang dan kebiasaanya di alam.  
 
Sebagian besar spesies bersifat akuatik dan hidup dalam berbagai kedalaman air asin, dari wilayah garis pantai dan perairan yang dangkal sampai ke dasar laut dalam. Di daerah tropis terdapat beberapa spesies kelomang yang hidup di darat; meskipun begitu, mereka memiliki larva akuatik dan karena itu memerlukan akses ke air untuk bereproduksi. Kebanyakan kelomang aktif di malam hari. Beberapa spesies umang-umang tidak menggunakan 'rumah' yang dapat digendong ke mana-mana, tetapi menghuni struktur tidak bergerak yang ditinggalkan oleh cacing polychaeta, gastropoda vermetid (siput cacing), binatang karang dan spons.  
 
Umur kepiting unik ini, bisa mencapai puluhan tahun, jika dia hidup di habitat aslinya dan minim pencemaran. Jika dipelihara sebagai peliharaan, kelomang dikatakan bisa bertahan hingga 10 tahun. Di Indonesia sendiri punya banyak species hewan lucu ini, berdasarkan bentuk cangkangnya. Dan mereka adalah hewan omnivora, artinya mereka memakan tumbuhan dan hewan lainnya yang lebih kecil.
 
 
 
Selain mencari makan, istirahat, populasi dan berkembang biak, aktivitas utama yang menentukan hidupnya ialah berburu cangkang. Kelomang akan selalu berganti-ganti cangkang sebagai tempat tinggal dan berlindung. Cangkang yang biasa dimanfaatkan dan yang menjadi sasaran biasanya dari moluska kelas Gastropoda.  
 
Ukuran cangkang yang dipilih disesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Kelomang muda yang berukuran kecil akan memilih cangkang siput kecil, misalnya siput dari genus Littorina. Sedangkan kelomang dewasa yang berukuran besar cenderung memilih cangkang siput dari genus Busycon (Prosobranchiata) atau siput dari genus Buccinum yang enak dimakan. 
 
Kebiasaan Perilaku Kelomang dalam berburu dan berganti-ganti cangkang. 
 
Salah satu perilaku yang khas dari kelomang adalah berburu cangkang yang akan digunakannya sebagai tempat tinggal dan sekaligus sebagai tempat berlindung. Hal ini tampaknya memberikan perlindungan yang aman terhadap pemangsa, baik di darat maupun di air. Selain itu juga untuk melindungi kelomang dari kerusakan-kerusakan yang disebabkan hempasan ombak, gesekan pasir dan batu karang.  
 
Cangkang yang dipilih sebagai tempat tinggal biasanya yang telah kosong. Tidak jarang kelomang menyerang siput atau gastropoda yang terluka oleh hewan lain. Disamping itu juga dari gastropoda yang tidak dapat melarikan diri karena kondisi tertentu. Siput atau gastropoda yang sehatpun kadangkala menjadi sasaran untuk mendapatkan cangkang. Kelomang akan berlaku kasar terhadap siput (si pemilik cangkang) apabila menginginkan cangkang siput sebagai rumahnya. Siput akan diserang secara tiba-tiba, dirampas dan diusir dari cangkangnya. Seringkali perkelahian ini mengakibatkan kematian dari siput.  
 
Biasanya kelomang akan mengintai siput yang menjadi sasarannya kemana saja berjalan. Kaki-kaki pejalan (ambulatory legs) akan mencengkeram dan menahan cangkang siput, sehingga tidak dapat berjalan serta menariknya keluar dari cangkang. Perpindahan dari cangkang yang lama ke cangkang yang baru dilakukan dengan cepat dan hati-hati, karena keadaan ini merupakan masa kritis bagi kelomang. Hal ini disebabkan karena tubuhnya yang lunak merupakan sasaran yang baik bagi predator.  
 
Untuk berpindah ke cangkang yang baru kelomang seolah-olah sudah mengatur posisi cangkang sedemikian rupa sehingga cangkang yang baru tersebut bagian ventralnya berada dalam posisi terbuka. Posisi yang demikian ini akan memudahkan kelomang memasukkan tubuhnya. Kuku-kukunya yang kuat dan tajam akan memegangi pinggiran cangkang dan dengan cepat kelomang tersebut menarik tubuhnya dari cangkang lama masuk ke cangkang baru. Hal ini dilakukan berulang kali dengan maksud menyesuaikan ukuran tubuhnya, sehingga seluruh tubuh kelomang tersebut dapat masuk dan tidak tampak dari luar.  
 
Ukuran cangkang selalu berganti-ganti sesuai dengan perubahan tubuh. Selain itu ukuran cangkang juga mempunyai beberapa pengaruh dalam mempertahankan hidup dan melakukan reproduksi. Ukuran cangkang yang besar memungkinkan kelomang betina berkembang mencapai ukuran yang optimal. Hal ini memudahkan mereka berkembang biak di dalam rumah cangkangnya. Kelomang yang menghuni cangkang terlalu kecil akan sulit untuk memasukkan seluruh tubuhnya, sehingga lebih rendah toleransinya terhadap kekeringan. Berbeda dengan kelomang lain yang seluruh tubuhnya berada dalam cangkang secara lengkap.  
 
Apabila cangkang yang baru dirasakan terlalu sempit, sehingga tidak dapat keluar masuk dengan leluasa, maka untuk mengatasi keadaan tersebut kelomang akan mengikis bagian dalam cangkang dengan kuku-kukunya. Dengan demikian cangkang baru itu dapat dihuni sementara waktu hingga ditemukan cangkang dengan ukuran yang lebih sesuai.  
 
Sebelum mendapatkan cangkang siput yang cocok, kelomang akan terlebih dahulu memeriksa bagian dalam cangkang dengan menggunakan daktilus. Bila lapisan bawah cangkang ternyata berkerut sehingga tidak sesuai dengan keperluannya, maka kelomang akan berenang di dasar. Hal ini biasanya tidak berlangsung lama karena mereka akan berusaha mencari cangkang siput lain yang sesuai dengan ukuran badannya.  
 
Ada kalanya kelomang salah dalam memilih ukuran cangkang, mungkin terlalu kecil atau terlalu besar. Dalam keadaan demikian cangkang tersebut hanya ditinggali sementara saja hingga kelomang tersebut menemukan cangkang baru yang lebih cocok. Seringkali kelomang tidak mendapatkan cangkang kosong. Bila hal ini terjadi, maka kelomang tersebut akan menggunakan benda atau bahan apa saja yang didapat untuk melindungi abdomennya.

 
 
Perkelahian dalam perebutan cangkang baru tidak hanya terjadi antar kelomang dengan siput saja, tetapi juga antar sesama kelomang itu sendiri. Kompetisi perebutan ini biasanya dimenangkan oleh kelomang yang lebih kuat dan besar, baik dalam mempertahankan cangkang yang sudah ditinggalinya atau dalam mencari cangkang baru. Sedangkan kelomang yang kalah dalam kompetisi biasanya akan membenamkan diri ke dalam pasir atau bersembunyi dibalik batu-batu karang untuk sementara waktu hingga kelomang tersebut siap untuk berburu kembali. Bentuk perlindungan dari penggunaan cangkang siput merupakan suatu pertahanan yang pasif terhadap hewan pemangsa.  
 
Selama jumlah kelomang berlimpah di beberapa habitat laut, hewan tersebut jarang menjadi makanan organisme yang biasanya memakan binatang berkulit keras. Jika kelomang mendiami cangkang yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya maka setengah dari badannya berada di luar cangkang tersebut. Kelomang yang demikian mempunyai kemungkinan lebih besar dimangsa oleh predator, dibandingkan dengan kelomang yang mendiami cangkang sesuai dengan ukurannya.
 
Seringkali cangkang kelomang ditempeli oleh hewan atau tumbuhan, sehingga tidak terlihat oleh predator. Hal ini sangat menguntungkan, karena penghunian bersama dengan simbiose lainnya dalam satu cangkang dapat menghalangi pemangsa atau dapat memberikan penyamaran bagi kelomang.  
 
Tingkah laku kelomang dalam bereproduksi dan berkembangbiak.  
 
Jenis-jenis kelomang sangat bervariasi dalam ukuran dan bentuknya; mulai dari spesies dengan ukuran karapas hanya beberapa milimeter panjangnya hingga ke Coenobita brevimanus, yang bisa hidup selama 12-70 tahun dan ukurannya dapat mendekati besar buah kelapa. Ketam kenari Birgus latro yang tanpa cangkang masih tergolong kerabat kelomang, dan dikenal sebagai invertebrata daratan yang terbesar di dunia.
 
Pada umumnya kelomang atau umang-umang mempunyai tingkah laku seksual yang polanya berbeda diantara setiap jenisnya, tetapi pada dasarnya mempunyai cara yang sama dalam satu marga. Marga Clibanarius, Calcinus dan Paguristes selama prekopulasi (masa sebelum melakukan perkawinan) kelomang jantan akan memegang dan mengitari cangkang kelomang betina dengan kaki-kaki pejalan. Sedangkan marga Pagurus mempunyai cara yang berbeda dimana kelomang jantan akan memegangi cangkang kelomang betina dengan sapit yang kecil. 
 
Pada semua jenis Pagurus bahwa kelomang jantan akan menarik kelomang betina dan memegang cangkang serta kaki-kaki pejalannya dengan kuat. Kemudian kelomang jantan menarik kelomang betina kearah depan tubuhnya dengan gerakkan cepat yang dilakukan oleh sapit kecil. Kelomang jantan akan selalu menarik perhatian kelomang betina dengan membuat gerakkan-gerakkan isyarat.  
 
Biasanya kelomang jantan akan menggaruk-garukkan sapit kecilnya ke pinggiran cangkang kelomang betina untuk memberikan rangsangan kelomang betina. Beberapa menit kemudian kelomang jantan akan melakukan gerakkan-gerakkan getaran dengan sapit besar sebagai tanda sudah berlangsung komunikasi. Sebagai interaksi, kelomang betina akan mengelus-elus sapit besar kelomang jantan dengan antenanya. Sedangkan sapit kecil kelomang jantan memegang erat-erat kaki-kaki pejalan kelomang betina. Setelah itu barulah kedua pasangan kelomang tersebut keluar dari cangkang masing-masing dan siap melakukan perkawinan.
 
 
 
Posisi tubuh kelomang dalam melakukan perkawinan diatur sedemikian rupa sehingga berada dalam keadaan yang tepat. Kelomang betina berada dalam keadaan terlentang, kemudian kelomang jantan mengambil posisi di samping kelomang betina, dan memasukkan pleopod-1 ke dalam alat genital betina. Kejadian ini umumnya diikuti oleh getaran yang menghentak agar spermanya dapat disalurkan ke dalam kantung sperma sebelum terjadi pembuahan. Pembuahan (fertilisasi) dari kelomang terjadi di dalam tubuh (internal). Kelomang betina akan bertelur sepanjang tahun. 
 
Telur-telur melekat pada rambut-rambut pleopod dari abdomen kiri, berkelompok menyerupai untaian buah anggur dengan jumlah yang bervariasi tergantung dari besar kecilnya kelomang. Telur-telur akan berkembang terus sampai siap menetas dan warnanyapun akan mengalami perubahan yaitu dari orange, merah dan terakhir kuning keabu-abuan. Telur-telur akan dimasukkan ke dalam cangkang agar terlindung dari kekeringan dan gangguan dari luar. 
 
Awal perkembangan embrio ditandai oleh adanya mata dan titik-titik pigmen. Telur yang ditetaskan berkembang menjadi larva dan dilepaskan dari bagian abdomen sebelah kiri. Kelomang yang akan menetaskan telur biasanya berjalan menuju batu-batu karang di daerah pasang surut. 
 
Penetasan dipercepat oleh ombak yang datang dan memecah membasahi tubuh kelomang dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus. Proses penetasan dibarengi oleh aktivitas kelomang tersebut dengan menggoyang-goyangkan abdomennya. Dengan demikian di saat telur-telur kontak dengan air laut telur segera menetas menjadi larva. Larva hidup bebas sebagai plankton, mengalami pertambahan segmen (anamery) dan berkembang melalui tingkatan-tingkatan yaitu zoea (5 stadium), tingkatkan glaucothoe, kelomang muda (juvenil) dan dewasa. 
 
Kelomang muda akan tumbuh menurut tahapan demi tahapan, dengan dua tahap pertamanya (nauplius dan protozoea) terjadi semasa dalam telur. Kebanyakan larva kelomang menetas pada tahap ketiga, zoea. Pada tahap larva ini, anak kelomang memiliki beberapa duri panjang, abdomen yang sempit dan panjang, dan antena berjumbai yang besar. Setelah beberapa kali berganti kulit, tahap zoea ini diikuti oleh tahap larva akhir yaitu megalopa. 
 
Demikian ulasan tentang kelomang atau umang-umang jenis kepiting pertapa yang gemar berburu cangkang. Dimuat berdasarkan sumber dari :
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kelomang
  • https://rimbakita.com/kelomang/
  • http://oseanografi.lipi.go.id/dokumen/oseana_xv(3)127-133.pdf
  • https://www.mongabay.co.id/2013/12/16/kelomang-si-kepiting-unik-hobi-berpindah-rumah/
Gambar dimuat berdasarkan penelusuran google gambar dengan kata pencarian "kelomang, jenis kelomang, umang umang laut, karakteristik jenis kelomang, kalasifikasi dan morfologi kelomang, habitat kelomang di alam". Sekian, semoga dapat menjadi referensi bacaan yang manfaat. Terimakasih.





No comments: